Kamis, 16 Juli 2015

Amazing Trip t - Day III : Tersesat

Mulutmu harimaumu, adalah sebuah kata yang tepat untuk menceritakan hari ketiga saya di Aceh. Ketika masih di Pulau Weh, ada yang mengatkan “Semoga kita menemukan tanjakan yang terjal dan juga turunan yang cuuram untuk mencoba fitur yang ada di mobil ini,” da nada juga mengatakan “Saatnya untuk menyiksa Navara ini,” dan ternyata, semua terjadi.

Pagi, sekitar pukul 4 pagi saya sudah bangun untuk bersiap mengejar sunrise bersama beberapa rekan saya. Kami mngejar Sunrise di kawasan Dau Laut Tawar. Sebuah danau yang masih sangat cantik, meski sedikit ternoda karena ada beberapa kawasan yang dibangun.



Sayang, kami gagal mendapatkan sunrise tersebut. Matahari tertutup awan. Meski demikian, pemandangan disana masih tetap cantik dengan cukup banyak pepohonan yang menutupi gunung. Air danau pun sangat bening. Di beberapa titik terlihat ada kolam apung milik warga setempat untuk menampung ikan.

Setelah sarapan yang cukup menyenangkan, kami memulai perjalanan menuju Meulaboh. Disini, kami kembali mengandalkan GPS. Namun GPS tidak terlalu kami perhatikan mengingat kami masih berada dalam satu rombongan.

Selama perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan yang sangat cantik meski cukup menantang. Kiri jalan tebing, kanan jurang. Meski demikian, perjalanan terbilang manusiawi karena jalanan masih diaspal dengan baik.

Saya yang duduk sebagai penumpang belakang seakan norak sekali dengan pemandangan yang berada di sekeliling saya. Sangat cantik. Pemandangan sedikiit rusak saat saya melihat ada beberapa titik longsor di tengah hutan dan beberapa titik dijalan yang kami lalui.


Menjelang siang, kondisi jalan semakin menantang. Tidak hanya jurang, kami juga menghadapi jalanan yang longsor dan beberapa perbaikan jalan. Jalanan pun tidak bisa dikatakan sebagai rute yang ‘mudah’ lagi. Beruntung, kami melaluinya ketika siang hari. Jika malam hari, sudah pasti perjalanan kami akan menjadi sangat berbahaya mengingat tidak ada penerangan dan marka jalan yyang cukup di rute yang kami lewati.

Sekitar pukul 2 siang, rombongan tiba di sebuah desa. Saya kira perjalanan tidak jauh lagi, namun ternyata kami justru mendapat kabar yang kurang menyenangkan. Rute yang kami lalui salah. Memang bisa melaui rute yang kami lalui ini, namun rute kami adalah rute yang sangat jauh dan terbilang ekstrim.

Kami pun berkonsultasi dengan warga disana, apakah sebaiknya melanjutkan perjalanan atau memutar kembali. Sayang, warga disana tidaklah satu suara. ada yang mengatakan bila melanjutkan perjalanan, ada juga yang sebaiknya kembali ke Takengon.

Permasalahannya adalah, apabila kami memutar balik, maka perjalanan yang kami tempuh sudah pasti jauh. Rute juga terbilang berat mengingat hari kemungkinan sudah semakin sore. Sementara apabila rute lanjut, kami tidak mengetahui secara pasti kondisi jalannya. Demikian juga warga yang tidak bisa memberi keterangan secara detail tentang kondisi jalan. Ia hanya mengatakan bahwa rute tersebut terbilang ‘ngeri-ngeri sedap’, jalan juga tidak diaspal tapi hanya dilakukan pengerasan.

Setelah berunding, kami pun memutuskan untuk tetap untuk melajutkan perjalanan kami.
Awalnya, perjalanan cukup mudah. Halangan kami hanyalah kerbau yang sangat banyak, ayam yang juga sangat banyak dan jalanan yang sedikit sempit. Selama perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan yang pastinya sangat cantik. Jujur, desa yang kami lalui mungkin bukanlah desa wisata, namun pemandangan disana sungguhlah cantik.

Sore hari, perjalanan mulai menantang. Aspal habis dan jalan mulai berbatu. Kanan kiri adalah semak. Dan jalan hanya cukup  untuk 1 mobil. Apalagi mobil yang kami kemudikan adalah mobil dengan dimensi yang cukup besar sehingga cukup sulit untuk ‘nyempil’.

Namun, itu bukanlah cerita utama. Disaat kami mulai menapaki satu bukit, tiba-tiba mobil didepan kami berhenti dan terdengar suarra dari HT ‘Ini ada tanjakan yang sangat curan dan sulit. Kalau Navara sih kayaknya bisa, tapi gw kurang yakin sama X-Trail,” ungkap suara di HT.



Saya pun penasaran dan melihat tanjakan tersebut. Dan benar saja, tanjakannya demikian curam dengan kondisi jalan yang mengenaskan dan bersebelahan dengan jurang. Jujur, saya sadar bahwa tanjakan tersebut adalah batas kemampuan saya. Mental saya tidak cukup untuk mengemudi di medan tersebut. Kunci pun saya serahkan pada Wahyu. Dia memiliki kemampuan mengemudi yang jauh diatas saya.

Sementara itu, mobil X-Trail pun juga mencapai batas kemampuannya. Mobil tersebut gagal menanjak tanjakan tersebut. Mobil X-Trail kembali ke rute keberangkatan kami. Cuaca ketika itu sudah mulai hujan.



Perjalanan kami dilajutkan. Dan ternyata tantangan tidak selesai sampai disana. Jalanan makin lama semakin menyempit. Dan ketika itu, saya baru tahu bahwa rute kami ini adalah rute yang berada dibawah penguasaan GAM ketika konflik dahulu. Sedikit horror adalah saat saya mengetahui bahwa konon kabarnya, sering ada mayat yang tergeletak disana. Sedikit gak enak ya?

Kami pun dikejutkan dengan adanya seorang pengendara motor yang melalui jalan kami. Bagaimana tidak, mobil yang memiliki spesifikasi cukup tinggi seperti yang kami gunakan saja, cukup membuat kami ngeri, eh dia malah hanya menggunakan sebuah sepeda motor, malah berani melalui jalan ini, bawa belanjaan pula. Kami pun membiarkan ia mendahuli kami terlebih dahulu.

Namun, tidak lama kami berhenti ketika sang penegndara motor tersebut juga berhenti. Ia ternyata tengah membuka jalan untuk kami. Ketika itu, ada beberapa ranting pohon yang rubuh sehingga ia menggunakan goloknya untuk membukakan jalan kami. Setelelah mengucapkan terima kasih, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.



Sekali lagi, mental saya dibuat menjadi seperti anak kecil. Didepan kami ada longsor yang menghadang dengan jurang disisi kirinya. Longsor tersebut sebenarnya terlihat sudah sedikit dibersihkan, namun masih terlihat mengerikan. Saya sudah berpikir bahwa perjalanan mungkin harus berputar arah, namun ternyata para senior berpendapat lain.

Perjalanan masih bisa dilanjutkan jika berjalan dengan sangat hati-hati dan perlahan. Hanya ada 2 orang yang sanggup melintasi longsor ini. Mereka pun bergantian untuk ‘meyebrangkan’ mobil-mobil yang kami tumpangi agar tiba diseberang. Alhamdulillah, berhasil.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Namun hanya beberapa menit kemudian, harus kami hentikan lagi. Kali ini, kami dihadang oleh sebuah pohon tumbang yang melintang di tengah jalan. Praktis tidak ada jalan bagi kami untuk melalui jalan ini.

Beruntung, pengendara motor yang kami melewati kami mau membantu. Pria yang akrab dipanggik pak Sabar tersebut mengetahui lokasi dimana kami bisa menemukan gergaji mesin yang disewakan. Ia bersama salah satu rekan kami pun mencari gergaji mesin.



Sembari menunggu, kami pun  berinisiatif untuk mencari langkah lain melewati pohon tumbang tersebut. Kami terdiri dari 7 mobil yang artinya ada 7 ban cadangan. Kami berencana untuk meletakkan 2 ban cadangan di satu sisi dan 2 lagi di sisi lainnya agar bisa dilewati oleh mobil. Seakan sudah dikomandoi, kami pun langsung mengerti peran masing masing dengan tugas masing-masing pula.

Namun, setelah semua persiapan selesai, ternyata pak Sabar telah kembali dengan 2 orang yang membawa gergaji mesin. Rasa lega pun hadir. Apalagi setelah tahu bahwa kami sebentar lagi akan melewati hutan ini.

Setelah pohon dipotong, saya baru tahu bahwa ternyata kedua orang tersebut adalah pembalak liar. Ditambahlagi, mereka meminta harga yang terbilang sangat tinggi, yaitu Rp 1,5 juta, “Itu juga setelah ge tawar, tadinya mintanya Rp 3 juta,” ungkap Anang, pria yang menemani pak Sabar untuk mencari kedua orang tersebut.



Perlahan namun pasti, jalanan mulai lebar dan terlihat sedikit mudah, hingga tiba-tiba suara di HT mengingatkan untuk berhati-hati terhadap tanjakan super curam dan kondisi yang kurang bagus. Dan benar saja, terdengar suara panic dari HT ‘CRASH CRASH CRASH!!!”

Seketika itu juga, rombongan langsung menuju lokasi. Sebuah mobil nyusruk disebuah parit. Beruntung mobil tidak tergelincir di jurang. Kami pun bahu membahu untuk menyelamatkan mobil tersebut. Perlu diingatkan bahwa kami nyasar sehingga tidak membawa perlatan yang memadai untuk melakuka recovery mobil dengan tepat. Beruntung, diantara kami terdapat senior yang memang sudah ahli menangani kondisi seperti ini. mobil pun berhasil kembali ke posisi yang seharusnya.



Perjalanan pun dilanjutkan. Beberapa kilometer kemudian, kami menemukan sisa-sisa pohon yang ditebang. Kemudian ada papan bertulisan peringatan dan menunjukkan bahwa saat ini kami berada di Taman Nasional Gunung Leuser. Sebuah daerah yang memang terkenal dengan pembalakan liar.

Perjalanan terus kami lanjutkan hingga kami menemukan jalanan aspal. Jalanan aspal itu layaknya sebuah sungai diantara gurun pasir. Ahahaha. Tidak hanya aspal, kami pun juga akhirnya bisa mendapatkan sinyal. Kami langsung menghubungi panitia yang menunggu kami di Meulaboh untuk dijemput dan bertukar supir untuk kemudian menuju hotel yang sudah disediakan.

Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah warung. Disana kami istirahat dan menikmati indomie rebus paling enak sedunia. Meski masih setengah matang, namun mie sudah mulai di lahap. Hahaha… maklum, selama 16 jam kami menghilang, kami hanya menikmati snack dan aqua yang dihemat. Ya, namanya juga nyasar yaaaa.

Haha…

Di hari keempat tidak banyak yang bisa saya sampaikan. Jujur, baju saya dari kering ke basah, kering lagi, basah lagi dan kering lagi (semua sampai tingkat celana dalam sekalipun) terpaksa tidak saya ganti di hotel. Pasalnya, baju saya semua berada di mobil yang kembali ke Takengon.

Di hari keempat juga saya baru mendapatkabar bahwa jalan yang kami lalui kembali longsor. Beragam cerita terkait rute tersebut pun saya dapatkan. Mulai dari bahwa jalan tersebut masihlah menjadi wilayah sisa-sisa GAM, sindikat ganja dan hingga tempat pelepas liaran harimau pemakan manusia menjadi cerita tersendiri untuk saya.

Perjalanan ini pun membuat saya untuk memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan lagi. Entah kemana itu. Yang jelas, saya mau lagi.

Rabu, 15 Juli 2015

Ekspedisi Tanah Rencong - Day II : Perjalanan Malam di Aceh

Dan ini adalah cerita saya pada hari kedua di Aceh



Hari Kedua, kita menyebrang dari Sabang menuju Aceh dengan menggunakan speedboad. Perjalanannya cukup menyenangkan dan berjalan dengan lancar. Mobil yang kami gunakan sudah dikirim terlebih dahulu dengan menggunakan kapal feri. Kami menuju pelabuhan dari hotel menggunakan bus.



Tiba di Aceh, kami pun menuju Museum Tsunami. Museum dari luar terlihat sangat apik. Beruntung kami disewakan seorang guide yang menjelaskan semua tentang museum Tsunami yang ternyata memiliki maknanya tersendiri.

Kami baru dipertemukan oleh mobil kami kembali saat siang hari. Mungkin sekitar pukul 1. Disini kami diajak untuk menuju titik berikutnya untuk ngopi dan istirahat. Untuk mgopi cukup jauh, sebab perjalanan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Jalanan juga terbilang naik turun meski terbilang bagus.
Setibanya saya di titik pertemuan, saya pun memesan kopi. Ini adalah misi utama saya ke Aceh, yaitu ngopi!! Dan benar, enak buangeeeet!!! Padahal lokasinya Cuma dipinggir pom bensin. Haha…

Setelah itu, rombongan diajak untuk menuju kawasan Danau Laut Tawar. Tidak ada yang tahu jalan, 100% menggunakan GPS. Disini saya yang membawa kendaraan. Perjalanan normal hingga di satu titik, saya sadar bahwa jalan tidak ada penerangan, marka, dan jalanan di beberapa sisi longsor.

Ada di satu titik, sebuah mobil dibelakang saya tidak menjaga jarak. Dia ngedim dan meminta saya untuk mengalah. Saya lakukan, mengingat saya yakin kemampuan mengemudinya jauh lebih baik dari saya. Dan ternyata benar, meski mobil yang digunakan memiliki spek yang jauh dibawah mobil yang saya gunakan, ia berhasil berjalan dengan baik. Mobil tersebut pun menghilang dari pandangan saya.

Namun, beberapa kilometer kemudian, mobil tersebut muncul lagi. Namun dalam kondisi yang kurang mengenakkan. Mobil tersebut keluar dar jalan dan nyaris masuk jurang. Jujur, saya beruntung. Andai saya tidak melihat mobil tersebut ‘bablas’, maka yang bablas pasti adalah saya.

Perjalanan cukup menyenangkan meski terbilang sedikit horror buat saya. Tapi alhamdulilah, setiba di hotel, saya masih selamat.

sepertinya membosankan? tunggu hari ketiganya!!!!

Jumat, 12 Juni 2015

Ekspedisi Tanah Rencong - Day I : Sabang

Jujur saja, saya bukan tipikal orang yang suka tantangan. Saya lebih suka dengan sesuatu yang santai dan tenang, dijalani dengan aman hingga semuanya selesai dengan tenang. Namun, kondisi ini sedikit terusik dengan perjalanan saya ke Aceh beberapa waktu lalu.

“Terima kasih atas undangannya, Mobil123 akan diwakili oleh bapak Adi Hidayat.” Kira-kira begitu jawaban dari managing editor saya, Indra Prabowo ketika beliau mendapatkan undangan untuk melakukan test drive All-new NP300 Navara.

Jujur, saya bersyukur telah mendapatkan kesempatan ini. Aceh, Serambi Mekah-nya Indonesia. Tempat yang mungkin tidak bisa saya datangi dengan kocek saya saat ini. Apalagi ketika saya mengetahui bahwa mobil yang digunakan adalah manual. Well, jujur saja, saya jauh percaya diri ketika mengemudi dengan transmisi manual dibandingkan dengan transmisi otomatis.


Namun saat saya melihat di undangan ‘harap mengirimkan wartawan dengan kemampuan mengemudi yang baik karena perjalanan akan melalui rute ekstrim’ (kira-kira begitu) rasanya jadi agak ciut. Seperti yang saya katakana di awal, saya bukan orang yang suka tantangan, apalagi menyangkut nyawa.

Mengemudi bukanlah hal yang mudah bagi saya. Karena mengemudi, setelah saya pelajari, bukan hanya sekedar mengendalikan kendaraan, namun juga mengendalikan ‘waktu hidup’ penumpangnya. Tapi, ya sudahlah, kalau ini tidak diambil, maka saya tidak akan bisa berkembang bukan?

Singkat cerita, saya harus tiba dibandara pukul 04.00 WIB. Tapi saya baru naik taksi kira-kira pukul 03.15. terlalu mepet buat saya untuk tiba di Bandara. Akhirnya sang supir pun saya suruh agak ngebut. Beruntung, perjalanan masih lancar. Wajar sih, namanya juga adzan subuh belum berkumandang.

Dibandara saya bertemu dengan puluhan wartawan senior dan terkemuka di dunia otomotif Indonesia. Jujur, saya minder mampus. Pengalaman saya di bidang otomotif tidak lebih dari secuil upil mereka. di bandara, kami diberikan pakaian untuk digunakan pada hari pertama.

Jadwal hari pertama adalah terbang ke Sabang dengan transit terlebih dahulu di Medan. Perjalanan dari Jakarta ke Medan tidak ada yang istimewa kecuali pelayanan pramugarinya yang kurang ramah.
Dan saya pun tiba di Medan dengan selamat. Alhamdulillah. Akhirnya saya sampe di Medan, dan langsung saya lakukan ritual wajib ketika memasuki wilayah baru yaitu pipis. Iyah, pipis. Oke, misi pertama : pipis di kualanamu, done.

Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali. Perjalanan kali ini naik pesawat kecil dengan baling-baling. Sedikit norak, saya pun foto-foto didepan pesawat. Nah, disini pilotnya cukup menegangkan di darat. Bawanya udah kayak bawa metromini. Ngagetin. Tapi pas udah di udara, LUAR BIASA MANTAP!

Entah mungkin memang cuacanya yang super cerah atau pilotnya yang memang hebat, tapi perjalanannya luar bisa diluar perkiraan. Nyaris tidak ada goncangan. Perjalanan sangat nyaman dan pelayanan pramugarinya juga lebih ramah.

Setibanya di pulah Weh, kami pun disambut dengan tarian lokal sana, brifing dan dipertemukan dengan mobil yang akan kami tes. Saya satu mobil dengan Wahyu kecil Dapurpacu.com dan bapak Martin dari Bisnis Indonesia.



Pulau ini kecil memang, tapi sangat bagus. Jalannya mulus, aspal rata dengan kemacetan yang nyaris tidak ada. Namun tidak dapat dipungkiri jalanan cukup menantang karena meski jalannya bagus, namun sempit dan menanjak curam.

Disini saya kewalahan. Mobil yang saya supiri tersendat hingga matik aja gitu. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Namun mental saya jujur saja drop. Saya pun memutuskan untuk memberikan kunci kepada 2 rekan satu tim saya.


Nah, disini destinasi utama adalah Tugu Kilometer 0. Tugu ini merupakan symbol bahwa kita berada diujung terluar Indonesia. Sebenarnya secara geografis sih bukan pulau We tapi Pulau Benggala. Pulau tersebut tidak berpenghuni. Tapi kalau dengar-dengar sih, pulau tersebut ada tertutup dan hanya boleh TNI disana. Karena itulah, tugu Kilometer 0 dibangun di Pulau Weh.

Nah, disana kita sesi foto. Sayang Tugu sedang direnovasi, jadi ya kuranglah fotonya. Ditambah lagi, terlalu banyak pedagang disana yang justru mengurangi daya tarik dari Tugu Kilometer Nol itu sendiri. Padahal seharusnya, Tugu Kilometer 0 bisa tampil lebih atraktif. Oiya, bagi yang sudah kesini, kita bisa mendapatkan sertifikat yang menunjukkan bahwa kita sudah disana.

Saya di Pulau We, Sabang, hanya semalam. Disini saya menginap di sebuah resort yang sangat bagus. Saying, saya terlalu capek dan ketiduran untuk ikut diving atau snorkeling. Sumpah, nyesel abis.

Nah, ini adalah edisi hari pertama.. tunggu ceritanya kelanjutannya yak!!!

Jumat, 24 April 2015

Ringkasan Film : Filosofi Kopi

Sudah lama saya tidak menulis blog lagi. ‘Capek’ mungkin kata yang cukup mewakili penyebab lamanya blog ini tidak di update. Dan setelah sekian lama, saya ingin membahas tentang film Indonesia berjudul Filosofi Kopi.

Sebagai pembuka, Filosofi Kopi adalah sebuah judul dari salah satu karya sastra dari Dee pada tahun 2006. Cerita pendek tersebut bisa dibaca pada antalogi prosa dengan judul dan pengarang sama. Kebetulan saya punya bukunya dan hilang. Haha. Dari semua kumpulan cerpen dan prosa tersebut, jujur Filosofi Kopi mungkin bukan favorit saya ketika itu. Karena, Rico De Coro, cerita ke 18 merupakan sebuah cerpen yang juga sangat menarik.



Dalam cerpen filosofi kopi tersebut diceritakan tentang kisah sebuah kedai yang dibangun oleh Ben, seorang Barista yang sudah keliling dunia, membangun sebuah kedai kopi. Bersama dengan rekannya, Jody, mereka pun membangun kedai kopi bernama Filosofi Kopi. Konsepnya adalah sebuah kedai yang memberikan filosofi ke setiap kopi yang mereka hidangkan dalam secarik kertas. Suatu ketika ben ditantang oleh seorang pengusaha kaya untuk menciptakan sebuah kopi terenak di dunia dan menggambarkan sebuah kesempurnaan hidup. Ben pun menyanggupinya. Ben berhasil menciptakan kopi tersebut yang kemudian diberi nama Bens’s Perfecto dengan filosofi ‘sukses adalah wujud kesempurnaan hidup’. Namun, Bens’s Perfecto rupanya masih belum bisa membuat seorang pengunjung puas. Ia mengatakan kopi tiwus di kawasan jawa tengah lebih enak. Ben pun mencari kopi tersebut bersama Jody untuk membuktikannya. Dan ternyata benar, Kopi Tiwus jauh lebih enak jika dibandingkan dengan Ben’s Perfecto.



Oke, kini masuk ke main course. Kita akan membahas filmnya secara terpisah namun tetap memberi ‘sedikit’ perbandingan dengan bukunya. Sama seperti saat saya membahas film Test Pack.
Film Filosofi Kopi diawali dengan sebuah drama kedai kopi bernama Filosofi Kopi yang terlilit hutang sebesar Rp 800 juta. Meski kedai tersebut cukup ramai, namun ternyata hal tersebut tidak mampu mengurangi hutang tersebut.

Jody, sang akuntan kedai terus memutar otak untuk bisa mempertahankan kedai yang dibangunnya bersama Ben agar tidak tutup. Namun, cara-cara yang ingin dilakukan oleh Jody selalu ditentang Ben.
“Kopi yang enak akan menemukan penikmatnya” itulah kalimat yang digaungkan oleh Ben.
Namun, uang bisa berkata lain bung. Filosofi Kopi tidak bisa hidup tanpa uang, dan Tuhan memberikan jalan keluar. Suatu hari, Ben mendapat tantangan dari seorang pria kaya untuk membuatkan secangkir kopi dan akan dihargai Rp 100 juta jika kopi buatannya bisa membuat investor senang dan proyek yang tengah di nego, gol. Ben dan Jody pun menyanggupinya. Namu, sebuah manuver dilakukan Ben saat negosiasi. Ia minta bayaran ditambah menjadi Rp 1 Miliar dan jika ternyata Ben gagal membuat kopi yang enak, maka Ia harus balik membayar uang Rp 1 Miliar tersebut.



Ben pun mulai kembali belajar untuk membuat kopi yang enak, bahkan terenak di Jakarta, di Indonesia kalau perlu. Hasilnya? Ben’s Perfecto berhasil diciptakan dan berhasil membawa Filosofi Kopi menjadi semakin laris.

Namun, ‘kesempurnaan’ Ben’s Perfecto tersebut rupanya tidak membuat seorang penikmat sekaligus penulis kopi puas. Orang tersebut adalah El, seorang wanita yang telah memiliki pengakuan dunia international atas penilaiannya akan kopi.


Ia pun mengatakan bahwa Kopi paling enak di Indonesia yang pernah ia minum adalah kopi Tiwus. Kopi tersebut merupakan kopi hasil racikan dari seorang petani bernama Seno. Takut kalah taruhan, Ben dan Jody pun sepakat untuk mencari kopi tersebut bersama El.

Dan disinilah drama dimulai.

Dalam novelnya, Kopi Tiwus digambarkan sebagai kopi yang bisa membuat melayang masuk kedalam kenangan sang peminumnya. Demikian juga dalam film ini, meski sedikit ada perbedaan. Dalam film, Ben memaksa pak Seno untuk menunjukkan ladang kopinya terlebih dahulu. Di lading tersebut, ia melihat kenangan masa kecilnya yang menyenangkan dan juga kenanangan yang pahit.

Dalam kenangan tersebut, mencerittakan masa kecil Ben yang menyaksikan keluarganya dipukuli oleh petugas karena tidak mau mengganti tanaman kopi mereka menjadi lahan sawit. Disatu segmen kemudian Ben diajak untuk melihat kembali bagaimana ia diajarkan untuk membesarkan dan merawat pohon kopi. Dan kemudian melihat bagaimana kematian Ibunya yang misterius saat berangkat mengaji dan membuat ayahnya menjadi pembenci kopi. Ya, pembenci kopi. Bahkan ayahnya membanting kopi yang dibuat oleh Ben dan membakar semua biji kopi yang Ia miliki, sekaligus melarang Ben untuk menyentuh Kopi sama sekali.



Namun, ketika kembali dari ladang pak Seno, Ben pun menegak kopi Tiwus. Kenangan Ben kembali muncul. Kenangan tersebut menceritakan ketika Ia diajarkan cara memanggang biji kopi agar pas dan tidak gosong. Kenangan ini berhasil menjadi titik kekalahan Ben’s Perfecto dibanding Kopi Tiwus.
Singkat cerita, Ben, Jody dan El pun membawa kopi Tiwus ke Jakarta untuk kemudian diberiikan pada sang investor. Sang investor senang, proyek gol dan uang Rp 1 Miliar didapatkan. Tapi drama episode 2 baru dimulai kawan.

Dalam novel, Ben memang terpuruk dengan kekalahannya akan kopi Tiwus. Ia hendak pension. Demikian juga yang ada di Film. Bedanya, Ben memutuskan  pensiun dan pindah menemui ayahnya. Namunsebelunya, ia nyekar terlebih dahulu.

Ngg… disini agak aneh. Ben nyekar ke malam Ibunya, tapi di batu nisan, itu nisan Kristen. Padahal saat meninggal, Ibu-nya mau pergi ngaji. Tapi ya namanya juga film ya… ya udah sih…

Ayahnya yang sebelumnya berprofesi sebagai petani kopi rupanya telah beralih profesi menjadi petani sayur. Saat malam hari, ia pun minta dibuatkan kopi oleh Ben dan Ia menyanggupi.
“Bapak sudah lama tidak menikmati kopi seenak ini lagi,” ucapnya. Ben pun mengusap lengan bapaknya.

Mmmh… adegan ini gimana ya… Saya suka, pake banget.
Setelah itu Bapaknya pun memberikan secarik kertas pada Ben “Bapak belum sempat menceritakan ini ke kamu.”

Kertas tersebut ditemukan bapaknya digenggaman sang Ibu saat jenasahnya ditemukan. Kertas tersebut bertulisan ‘kalau kau tidak berhenti, berikutnya anakmu yang mati’
Dan inilah yang rupanya membuat sang bapak sempat membenci kopi.

Dan Alhamdulillah sang bapak dan sang anak pun berbaikan kembali.

Namun, kebahagian tersebut rupanya berbanding terbalik dengan kondisi Jody yang tengah meratapi nasib. Ia seakan kehilangan separuh jiwanya. Hingga satu saat, El datang ke Filosofi Kopi. Ia meminta kopi Tiwus namun ternyata rasanya tidak enak.

“Bikin kopi itu memang tidak bisa hanya menggunakan kepala, tapi juga hati,” ucapnya (kira-kira sih. Saya juga lupak)

Setelah itu Jody pun menemui Ben. Mengajak Ben kembali ke Jakarta namun sayangnya, Ben menolak dengan alasan ia sudah kerasan untuk tinggal bersama dengan bapaknya. Namun demikian, sang bapak rupanyanya memiliki jalan pikiran yang berbeda.

“Kalau kamu memang mencintai kopi, maka kembalilah ke Jakarta. Bapak tidak apa-apa tinggal sendiri. Setidaknya, kamu tahu bahwa kamu ada rumah untuk pulang,” (kembali, kira-kira seperti itu)

Ben pun memutuskan kembali ke Jakarta dan menemukan kedai Filosofi Kopi sudah dijual. Masih keheranan, tiba-tiba ada sebuah mobil modifikasi bertuliskan filosofi kopi. Ternyata Jody memutuskan untuk menjual kedai miliknya dan memulai kedai berjalan.

Diakhir cerita, El menulis sebuah buku berjudul Filosofi Kopi. Saat peluncuran bukunya, Ben menyempatkan diri untuk datang dan meminta bukunya ditanda tangani El sebari berkata, “Saya tidak hanya ingin meminta tanda tangan, tapi juga mengenal lebih dekat penulisnya,”

Daaaan, ini berbeda dengan versi cerpen dimana Ben dan Jody memberikan cek pada pak Seno.  Sayangnya, Pak Seno tidak tahu itu apa dan justru menyimpannya sebagi souvenir di lemari.


sekali lagi, meski mengadaptasi cerpen, namun ini beda jenis hiburannya. jadi, memang tidak bisa dibandingkan sama sekali. jadi tergantung anda, lebih suka menonton atau membaca?

Minggu, 04 Januari 2015

Selamat Tahun Baru 2015

Selamat Tahun Baru 2015

apa resolusi anda di tahun ini?

Apapun itu, semoga terwujud!!!

Selamat Tahun Baru!!!!