Tampilkan postingan dengan label wahana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wahana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2013

Simulasi Menjadi Orang Tua

Pekerjaan gw kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. Menyebalkan adalah kala gw jadi terlalu sibuk. Bahkan cewek gw selalu mengeluh akan kesibukan gw yang bahkan di hari libur pun selalu lembur, nyaris gak ada waktu buat dia. Sementara senengnya adalah, kala liputan bisa bawa dia sekalian pacaran.

Nah, salah satunya adalah yang gw lakukan beberapa waktu lalu. Gw dapet undangan ke KidZania untuk meliput peluncurkan Honda Safety Driving School. Diundangan boleh bawa keluarga terdiri 4 orang dan untuk anak-anak maksimal usianya adalah 12 tahun. gw pun mikir bisa manfaatin ini buat ajak cewek gw sama keponakannya, Dika dan Karin. Ide tersebut pun disambut positif. Alhasil, Gw dan Mega pun menjadi orang tua sehari. Ini  100% simulasi menjadi orang tua.

Mmmh, oke, gw mungkin harus ceritakan tentang KidZania terlebih dahulu. KidZania adalah sebuah tempat bermain untuk anak-anak yang berusia maksimal 12 tahun. disini mereka bermain dengan profesi layaknya orang dewasa. Dan bahkan untuk beberapa permainan, mereka itu digaji. Tentunya dengan mata uang KidZania.

Disini uniknya adalah, orang tua gak boleh ngantriin buat anak-anaknya. Si anak harus antri sendiri dan pas main gak boleh ditemenin sama orang tuanya. Sebaliknya, ada lounge untuk orang tua yang anak-anak malah gak boleh masuk. Nah Alhamdulillahnya, gw sama Mega sempat main di satu wahana tentang desain. Lumayan 1 wahana, daripada bengong aja? Hehe. Kok bisa? Well, katanya sih itu lagi hari khusus, jadi boleh.



Nah, profesi pertama yang mereka mainkan adalah pemadam kebakaran. Disini mereka diajarkan bagaimana mulai dari latihan, brifing hingga memadamkan kebakaran (bohongan kebakarannya. Tanpa api). Abis itu mereka ngambil SIM di Honda Safety Driving School, Balapan di bom-bom car masa kini, jadi pekerja di pabrik sepatu dan yang paling menegangkan adalah panjat tebing.



Iya, panjat tebing. Dari semua wahana, mungkin ini adalah yang paling ekstrim dari yang ada. Dika bahkan semat gelantungan karena kakinya gak nginjek dengan benar. Sementara Karin, entah kenapa, dia jauh lebih cepat walau dia yang perempuan. Apa mungkin karena Karin emang lebih tua kali yah? Well, sementara mereka panjat tebing, gw dan Mega Cuma bisa treak-treak dibawah

“AWAS ITU NANTI JATOH!”



Selain itu yang menyebalkan adalah, kami juga sempat menjadi orang tua yang kehilangan anaknya. Jadi mereka ceritanya kerja di Dunlop sebagai montir. Kita sholat. Pas balik, mereka belum kelar. Akhirnya kami coba putusin buat keliling sebentar. Pas balik MEREKA MENGHILANG #JengJengJeng

Kami pun keliling dan akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Eh, salah. Untuk berpencar, Mega nunggung di Dunlop dan gw keliling. Gw keliling 1 puteran dan gak ketemu. Yang ada Mega malah ilang juga. Pas mau keliling lagi, ternyata Mega sudah menemukan mereka dengan selamat. Dan, sialnya, Mega juga udah telpon gw namun gak gw angkat. Hehee

Pas menjelang malam, gw dan Mega udah capek dan laper. Kita nanya dengan baik layaknya orang tua yang mengerti kelaparan sang anak

“Dika, Karin, laper gak?” Tanya Mega
“ENGGAK” jawab mereka

Gw ma Mega shock. Anjrit… ni anak 2 pada kuat amat yak? Abis minum enervon-C 3 bungkus kali ya? Udah laper kagak, capek juga kagak. Alhasil kita keliling lagi. Sayang, permainan yang mereka inginkan ngantrinya puaaaaanjang bener. Jadi ya kita bujuk aja pulang. Hehee



Well, pada dasarnya jaga anak itu capek tapi gw gak mau munafik, gw seneng. Bayangin aja, dengan anak orang aja gw seneng, gimana dengan anak sendiri ya nantinya? Mungkin lebih seru. Oh ya, kalau lo mau ajak anak lo atau sodara lo ksini buat main, percaya deh, biarkan mereka bermain sepuasnya, toh udah bayar.


Jangan mikir “ah Cuma kerja jadi kasir” atau “ah Cuma kerja jadi jualan Koran” yang gw sararanin adalah, ketika anak-anak lo mau melakukannya, biarkan mereka mencobanya, apapun itu profesinya. Jangan ngatur anak-anak ketika mereka ada didunianya, karena yang harus diatur sebenarnya adalah orang tuanya. Tapi bukan berarti lo kehilangan peran sebagai orang tua, karena orang tua tetap harus mengawasi anak-anak tho? cuma biarkan mereka, menjadi diri mereka sendiri

Selasa, 12 Juni 2012

Terbang Bersama Balon Udara Raksasa

Pernah denger tentang wahana baru di Taman Mini yang bernama Balon Raksasa? hemm, Balon Raksasa ini adalah wahana yang memberikan kesempatan pengunjungnya untuk terbang secara vertikal keatas dan menikmati pemandangan disekitar. dan beberapa waktu lalu, akhirnya gw berhasil menaikinya.



Berawal dari hampir berakhirnya masa penggunaan voucher diskon yang gw dan Mega miliki, kami memtuskan untuk berakhir pekan kesana. masuk Taman Mini (2 orang+1 motor) kita perlu merogoh kocek sekitar 25 ribu rupiah. Setelah itu, kita menyempatkan diri buat keliling Indonesia dulu. Cepet lho ngelilingin Indonesia dengan motor, gak sampe 1 jam. cepetkan? Museum Rekor harus mencatat sejarah penting ini. abis itu, kami masih makan dan sholat dulu.

Setelah puas, kami baru meneguhkan pendirian kami untuk melepas voucher yang telah kami bawa 2 bulan terakhir ini. Kita menuju Balon Raksasa. Jalan masuknya agak terpencil, soalnya ada di antara pantat Keong Mas dan Vihara. pintu masuknya juga hanya muat 1 mobil. agak kurang meyakinkan.

Sampe dilokasi, lokasi rupanya cukup luas. Sayang lapangan parkirnya agak berantakan. Untuk mobil agak tertata meski harus menginjak rumput dan semak belukar sedangkan untuk motor, agaknya kurang rapi. Gw parkirin motor gw di deket kantornya. Itu posisi paling aman kayaknya.

Kami pun dengan nafsu birahi tinggi langsung mendatangi loket. sayang, mbak mbak loket menjawab dengan wajah menunggu gaji turun
"Belum bisa terbang mas, cuacanya belum stabil" ungkapnya.
"Sampai jam barapa?" tanya gw
"Wah, kalau cuaca kita gak bisa prediksi"
Lha? Gw bingung. perasaan kalo terbang kayak gini harusnya dapet prakiraan cuaca dari BMKG deh. Jadi bisa diprediksi cuaca buruk sampai jam brapa, kayak di bandara atau balapan F1. gw liat kelangit, cuaca emang agak gelap. Tapi ya masa balon udara kayak gini penentuan cuacanya dari pengelihatan semata dan bukan dari BMKG?

Ya daripada mengeluh, akhirnya kami tetep ambil no antrian dan nunggu sampai cuaca membaik. Kebetulan disana ada ayunan dan jungkat jungkit. Kami yang kebetulan masih belum lulus PAUD pun memainkan permainan untuk batita ini. Ayunan, Mega mau nyoba berdiri. sayang, tidak berhasil. usia yang semakin tua rupanya membuat mental sedikit ciut. hahaha. :p. Sedangkankan jungkat jungkit, membuktikan gw kudu segera diet. Mega diatas mulu, sedang gw dibawah mulu.

Setelah sekitar 45 menit kembali menjadi anak TK, Balon terbang pun mulai diterbangkan. namun, Balon yang mampu menerbangkan 30 orang sekaligus ini rupanya memiliki antrian yang cukup panjang. gw yang kebagian no 56 kudu nunggu sekitar 30 menit kemudian untuk bisa naik.



pas masuk keranjangnya, lo gak akan menemukan yang namanya kompor elpiji yang biasa digunakan buat memanaskan balon udara kayak di tipi tipi. yang ada cuma mas2nya megang semacam alat yang berisi banyak tombol. keranjangnya juga gak full. ada lubang ditengahnya dan digunakan untuk melihat pemandangan dibawah sekaligus tali pengikat dibawah.

nah, pas naik, pilot akan nyuruh kita pegangan, setelah itu, balon perlahan naik. pas baik, cukup ada goncangan. tapi gak terlalu parah. standard aja. malah sebelum sampe puncak, gw udah foto2. dan justru ini adalah kesempatan yang bagus untuk foto2 dengan atap keong mas sebagai latar. jarang2 kan?

sampe dipuncak, balon berhenti dan terasa stabil. foto2 dimulai. mulai dari foto jalan sampe foto narsis, pada dihajar disini. pemandangannya unik, karena lo bisa lit jalan tol disatu sisi, taman mini disisi lain, dan perumahan disisi lainnya. unik. sayang, terbang hanya 15 menit. pas turun, rasanya gw masih belum ridho. entah kenapa, gw masih pengen lebih lama.





pas mendarat. balon rasanya dibuat bergoyang kanan kiri sama mesin pengikat yang ada di bawah. Jadi mungkin biar gak langsung 'jeduuk' gt kali yah? tapi mulus kok mendaratnya. alhamdulillah.



nah, bicara soal biaya naik wahana ini, gw rasa cukup mahal. soalnya lo kudu bayar Rp. 100.000 untuk dewasa dan Rp. 80.000 untuk anak anal pada saat week day. sedangkan untuk weekend, lo kudu rogoh kocek lebih dalem yaitu Rp. 120.000 untuk orang dewasa dan Rp. 100.000 untuk anak-anak. Itupun, balon raksasa belum tentu terbang. Soalnya balik lagi, kudu wajib harus nunggu cuaca yang bersahabat. kalo Cuaca jelek, maka penerbangan akan di tunda atau bahkan ditiadakan.



welldone, itu aja untuk sementara. have a great day guys