persepsi orang, penulis dan wartawan adalah pekerjaan orang pintar dan tahu banyak tentang berbagai hal. mulai dari pengetahuan umum sampe pengentahuan yang spesifik dengan yang ia tulis dan karyakan. alasannya sederhana, dia menjadi salah satu sumber informasi bagi masyarakat.
namun, hal itu berhasil saya patahkan. yups, meski pekerjaan saya adalah seorang penulis (baca : reporter) di salah satu perusahaan swasta, namun ternyata saya jauh dari kata pintar. kok bisa? ya karena saya tidak kenal dengan wajah-wajah para menteri.
hal memalukan ini terjadi pada saat saya sedang meliput tentang ekspor kendaraan ke timur-tengah. seperti biasa saya merekamnya sambil memperhatikan orang-orang yang ada didepan panggung. bupati tahu mukanya, menperin tahu mukanya, dirjen dan direktur dari kemenperin pun tahu. tapi ada satu orang yang kurang familiar di mata saya.
orang tersebut muda, tinggi dan perawakannya mirip dengan Gita Wiryawan, mantan menteri perdagangan. dan tiba-tiba dia diminta untuk naik keatas panggung untuk memberi sambutan. nama dan posisinya agak kurang terdengar di kuping saya. yang saya tahu, saya harus rekam dia.
gaya bicara jujur terdengar sangat PD, tegas dan tanpa teks (penting tuh, tanpa teks). melihat penampilannya yang cukup oke, saya pun menanyakan pada rekan saya (wartawan Jakarta Post yang baru kenal beberapa jam).
"Bro, ini siapa ya?"
"Hah?! ini Muhammad Lutfi, Menteri Perdagangan! masa lo gak tahu?!"
"Oh.. kagak, gw gak tahu... hahaha"
"Kebanyakan urusin mobil doang sih lo.. haha"
"Iya.. hahaha"
anjrit, merasa bodoh saya.seakan ada tulisan dungu di jidat dan kartu pers siap dicabut.. hahaha...
Jujur ini sih pertanda buat saya kalau saya memang masih belum bisa apa-apa. masih perlu banyak belajar. adalah malu bila ternyata membuat kesalahan yang sepele namun fatal akibatnya seperti ini. semoga kedepannya bisa lebih hati-hati lagi. amin
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Maret 2014
Rabu, 07 Desember 2011
Pengalaman Pertama Membimbing Ekstrakulikuler
mulai Bulan November kemarin, gw dan Maharani positif memiliki profesi baru yaitu sebagai pembimbing. kami membimbing ekstrakuliler baru, yaitu Jurnalistik di SMP 81. dan ini adalah pertama kalinya dalam hidup kami mengajar. mmh, gmn rasanya? ternyata sulit, bahkan lebih sulit jika harus dibandingkan dengan boker dalam keadaan gak pengen boker...
niat suci untuk ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini berawal saat Bu Guru N (gak usah sebut namanya kali yeee) nge wall di group smp gw. intinya apakah ada alumni yang mau ikutan membina ekskul 81. dan gw dengan gak tau malunya mengajukan diri. dan ajaibnya beliau setuju tanpa ngeliat CV gw yang masya Allah mengenaskan. panik, karena sebenarnya gw juga gak nyangka beliau setuju, akhirnya gw minta Maharani buat ikutan ekskul ini. dan alhamdulillah, dia setuju. majulah kami menghadapi murid SMP 81.
SMP 81 adalah sebuah sekolah di kawasan Lubang Buaya yang memilki reputasi sangat baik saat ini. hal yang sangat kontras bila dibandingkan dengan pas angkatan gw yang saat perpiasahan pun, kita sempat tawuran. nyeeeh....melihat perkembangan sekolah, gw dan Maharani mempersiapkan segalanya amat sangat luar biasa MENTAH!!!kita gak ada aja gitu persiapannya.
keadaan semakin sulit pas gw liat ada 8 makhluk hidup yang siap dikutuk jadi wartawan instan ala kadarnya. iyap mereka ada 8 orang. ajaibnya, mereka semua bawa kamera yang lebih bagus dari punya gw. ada yang bawa pocket dengan ukuran 14 megapixel sampe SLR Nikon yang gw aja gak bisa makenya... padahal pas gw kuliah, gw masih pake pocket Sony 7,2 megapixel. kampret... makin keliatan begonya gw...
di pertemuan pertama, gw dan maharani ksh teori mentah dulu...dan nyuruh mereka ngarang bebas, sebebas bebasnya bebas...hasilnya? tulisan mereka cukup mengalir...bahkan sangat mengalir jika dibandingkan dengan tulisan gw baik yang di media maupun di blog.. ini bikin gw kicep juga,,,untung aja ada Maha, biarkan dia yang mengurusnya...wkwkwk #ketawasetan.
pertemuan kedua, meski ada yang gak hadir, namun ada anggota yang gak hadir. di pertemuan ini, gw dan Maharani udah mempersiapkan dengan lebih baik materi yang akan disampaikan. jadi sedikit lebih lancar. setelah materi kita sepakat untuk menentukan ketua umum dalam kepengurusan. Alhamdulillah, ada banyak siswa yang tergiur dengan kursi panas ini.
manusia-manusia tersebut bernama Jeihan, Amira dan Tiara. sayangnya, Jeihan dengan gantengnya mengundurkan diri dalam pencalonan. akhirnyam Amira dan Tiara lah yang bersaing dalam memperebutkan kursi laknat tersebut. setelah pembacaan visi, misi dan wawancara fit and proper test, dan dirapatkan mengenai kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi, Tiara berhak mendapatkan posisi Jurnalis 1.
dalam perkembangannya sih gw berharap sangat sangat banyak kepada mereka.karena bagaimanapun, angkatan pertama selalu menjadi patokan di mata masyarakat. mudah mudahan hasilnya bagus,,, gak kayak gw,,,amin
Langganan:
Postingan (Atom)
