Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Ringkasan Film : Filosofi Kopi

Sudah lama saya tidak menulis blog lagi. ‘Capek’ mungkin kata yang cukup mewakili penyebab lamanya blog ini tidak di update. Dan setelah sekian lama, saya ingin membahas tentang film Indonesia berjudul Filosofi Kopi.

Sebagai pembuka, Filosofi Kopi adalah sebuah judul dari salah satu karya sastra dari Dee pada tahun 2006. Cerita pendek tersebut bisa dibaca pada antalogi prosa dengan judul dan pengarang sama. Kebetulan saya punya bukunya dan hilang. Haha. Dari semua kumpulan cerpen dan prosa tersebut, jujur Filosofi Kopi mungkin bukan favorit saya ketika itu. Karena, Rico De Coro, cerita ke 18 merupakan sebuah cerpen yang juga sangat menarik.



Dalam cerpen filosofi kopi tersebut diceritakan tentang kisah sebuah kedai yang dibangun oleh Ben, seorang Barista yang sudah keliling dunia, membangun sebuah kedai kopi. Bersama dengan rekannya, Jody, mereka pun membangun kedai kopi bernama Filosofi Kopi. Konsepnya adalah sebuah kedai yang memberikan filosofi ke setiap kopi yang mereka hidangkan dalam secarik kertas. Suatu ketika ben ditantang oleh seorang pengusaha kaya untuk menciptakan sebuah kopi terenak di dunia dan menggambarkan sebuah kesempurnaan hidup. Ben pun menyanggupinya. Ben berhasil menciptakan kopi tersebut yang kemudian diberi nama Bens’s Perfecto dengan filosofi ‘sukses adalah wujud kesempurnaan hidup’. Namun, Bens’s Perfecto rupanya masih belum bisa membuat seorang pengunjung puas. Ia mengatakan kopi tiwus di kawasan jawa tengah lebih enak. Ben pun mencari kopi tersebut bersama Jody untuk membuktikannya. Dan ternyata benar, Kopi Tiwus jauh lebih enak jika dibandingkan dengan Ben’s Perfecto.



Oke, kini masuk ke main course. Kita akan membahas filmnya secara terpisah namun tetap memberi ‘sedikit’ perbandingan dengan bukunya. Sama seperti saat saya membahas film Test Pack.
Film Filosofi Kopi diawali dengan sebuah drama kedai kopi bernama Filosofi Kopi yang terlilit hutang sebesar Rp 800 juta. Meski kedai tersebut cukup ramai, namun ternyata hal tersebut tidak mampu mengurangi hutang tersebut.

Jody, sang akuntan kedai terus memutar otak untuk bisa mempertahankan kedai yang dibangunnya bersama Ben agar tidak tutup. Namun, cara-cara yang ingin dilakukan oleh Jody selalu ditentang Ben.
“Kopi yang enak akan menemukan penikmatnya” itulah kalimat yang digaungkan oleh Ben.
Namun, uang bisa berkata lain bung. Filosofi Kopi tidak bisa hidup tanpa uang, dan Tuhan memberikan jalan keluar. Suatu hari, Ben mendapat tantangan dari seorang pria kaya untuk membuatkan secangkir kopi dan akan dihargai Rp 100 juta jika kopi buatannya bisa membuat investor senang dan proyek yang tengah di nego, gol. Ben dan Jody pun menyanggupinya. Namu, sebuah manuver dilakukan Ben saat negosiasi. Ia minta bayaran ditambah menjadi Rp 1 Miliar dan jika ternyata Ben gagal membuat kopi yang enak, maka Ia harus balik membayar uang Rp 1 Miliar tersebut.



Ben pun mulai kembali belajar untuk membuat kopi yang enak, bahkan terenak di Jakarta, di Indonesia kalau perlu. Hasilnya? Ben’s Perfecto berhasil diciptakan dan berhasil membawa Filosofi Kopi menjadi semakin laris.

Namun, ‘kesempurnaan’ Ben’s Perfecto tersebut rupanya tidak membuat seorang penikmat sekaligus penulis kopi puas. Orang tersebut adalah El, seorang wanita yang telah memiliki pengakuan dunia international atas penilaiannya akan kopi.


Ia pun mengatakan bahwa Kopi paling enak di Indonesia yang pernah ia minum adalah kopi Tiwus. Kopi tersebut merupakan kopi hasil racikan dari seorang petani bernama Seno. Takut kalah taruhan, Ben dan Jody pun sepakat untuk mencari kopi tersebut bersama El.

Dan disinilah drama dimulai.

Dalam novelnya, Kopi Tiwus digambarkan sebagai kopi yang bisa membuat melayang masuk kedalam kenangan sang peminumnya. Demikian juga dalam film ini, meski sedikit ada perbedaan. Dalam film, Ben memaksa pak Seno untuk menunjukkan ladang kopinya terlebih dahulu. Di lading tersebut, ia melihat kenangan masa kecilnya yang menyenangkan dan juga kenanangan yang pahit.

Dalam kenangan tersebut, mencerittakan masa kecil Ben yang menyaksikan keluarganya dipukuli oleh petugas karena tidak mau mengganti tanaman kopi mereka menjadi lahan sawit. Disatu segmen kemudian Ben diajak untuk melihat kembali bagaimana ia diajarkan untuk membesarkan dan merawat pohon kopi. Dan kemudian melihat bagaimana kematian Ibunya yang misterius saat berangkat mengaji dan membuat ayahnya menjadi pembenci kopi. Ya, pembenci kopi. Bahkan ayahnya membanting kopi yang dibuat oleh Ben dan membakar semua biji kopi yang Ia miliki, sekaligus melarang Ben untuk menyentuh Kopi sama sekali.



Namun, ketika kembali dari ladang pak Seno, Ben pun menegak kopi Tiwus. Kenangan Ben kembali muncul. Kenangan tersebut menceritakan ketika Ia diajarkan cara memanggang biji kopi agar pas dan tidak gosong. Kenangan ini berhasil menjadi titik kekalahan Ben’s Perfecto dibanding Kopi Tiwus.
Singkat cerita, Ben, Jody dan El pun membawa kopi Tiwus ke Jakarta untuk kemudian diberiikan pada sang investor. Sang investor senang, proyek gol dan uang Rp 1 Miliar didapatkan. Tapi drama episode 2 baru dimulai kawan.

Dalam novel, Ben memang terpuruk dengan kekalahannya akan kopi Tiwus. Ia hendak pension. Demikian juga yang ada di Film. Bedanya, Ben memutuskan  pensiun dan pindah menemui ayahnya. Namunsebelunya, ia nyekar terlebih dahulu.

Ngg… disini agak aneh. Ben nyekar ke malam Ibunya, tapi di batu nisan, itu nisan Kristen. Padahal saat meninggal, Ibu-nya mau pergi ngaji. Tapi ya namanya juga film ya… ya udah sih…

Ayahnya yang sebelumnya berprofesi sebagai petani kopi rupanya telah beralih profesi menjadi petani sayur. Saat malam hari, ia pun minta dibuatkan kopi oleh Ben dan Ia menyanggupi.
“Bapak sudah lama tidak menikmati kopi seenak ini lagi,” ucapnya. Ben pun mengusap lengan bapaknya.

Mmmh… adegan ini gimana ya… Saya suka, pake banget.
Setelah itu Bapaknya pun memberikan secarik kertas pada Ben “Bapak belum sempat menceritakan ini ke kamu.”

Kertas tersebut ditemukan bapaknya digenggaman sang Ibu saat jenasahnya ditemukan. Kertas tersebut bertulisan ‘kalau kau tidak berhenti, berikutnya anakmu yang mati’
Dan inilah yang rupanya membuat sang bapak sempat membenci kopi.

Dan Alhamdulillah sang bapak dan sang anak pun berbaikan kembali.

Namun, kebahagian tersebut rupanya berbanding terbalik dengan kondisi Jody yang tengah meratapi nasib. Ia seakan kehilangan separuh jiwanya. Hingga satu saat, El datang ke Filosofi Kopi. Ia meminta kopi Tiwus namun ternyata rasanya tidak enak.

“Bikin kopi itu memang tidak bisa hanya menggunakan kepala, tapi juga hati,” ucapnya (kira-kira sih. Saya juga lupak)

Setelah itu Jody pun menemui Ben. Mengajak Ben kembali ke Jakarta namun sayangnya, Ben menolak dengan alasan ia sudah kerasan untuk tinggal bersama dengan bapaknya. Namun demikian, sang bapak rupanyanya memiliki jalan pikiran yang berbeda.

“Kalau kamu memang mencintai kopi, maka kembalilah ke Jakarta. Bapak tidak apa-apa tinggal sendiri. Setidaknya, kamu tahu bahwa kamu ada rumah untuk pulang,” (kembali, kira-kira seperti itu)

Ben pun memutuskan kembali ke Jakarta dan menemukan kedai Filosofi Kopi sudah dijual. Masih keheranan, tiba-tiba ada sebuah mobil modifikasi bertuliskan filosofi kopi. Ternyata Jody memutuskan untuk menjual kedai miliknya dan memulai kedai berjalan.

Diakhir cerita, El menulis sebuah buku berjudul Filosofi Kopi. Saat peluncuran bukunya, Ben menyempatkan diri untuk datang dan meminta bukunya ditanda tangani El sebari berkata, “Saya tidak hanya ingin meminta tanda tangan, tapi juga mengenal lebih dekat penulisnya,”

Daaaan, ini berbeda dengan versi cerpen dimana Ben dan Jody memberikan cek pada pak Seno.  Sayangnya, Pak Seno tidak tahu itu apa dan justru menyimpannya sebagi souvenir di lemari.


sekali lagi, meski mengadaptasi cerpen, namun ini beda jenis hiburannya. jadi, memang tidak bisa dibandingkan sama sekali. jadi tergantung anda, lebih suka menonton atau membaca?

Sabtu, 29 Maret 2014

5 Hal Aneh di The Raid 2 : Berandal



The Raid 2 masih baru diluncurkan, dan sudah banyak pembahasannya. dan saya pun juga mau membahas film ini. tapi, saya ingin melihat dari sisi yang lain yaitu dari bagian-bagian yang 'enggak banget' di film ini. bukan, bukan karena ceritanya yang kurang bagus, tapi adegan-adegan yang menurut saya dipaksakan.

1. Penjara




Saya gak tahu ya ini ada dipenjara mana. saya belum pernah masuk penjara. namun kalau menurut saya, penjaranya bukan Indonesia banget. lapangannya terlalu kecil dan isinya lumpur doang. settingannya lebih kayak penjara-penjara yang ada diluar negeri, jauh dari ekspektasi saya yang seperti penjara Cipinang.  uniknya, walau berantem kayak apa, beberapa pemain utamanya, mukanya bersih, gak kena lumpur. selain itu, makannya juga terlihat terlalu enak ya?

2. Ada Salju di Cikini




Entah kenapa, saya merasa yakin kalau ini ada Cikini. tapi kalau salah ya maaf. hehehe... ini adalah adegan dimana Prakoso yang diperankan oleh Yayan Ruhian, pemeran mad dog di The Raid : Redemption, mati. seru perkelahiannya, satu lawan banyak. Dalam kondisi dikeroyok, dia masih bisa nyaris menang. seru! tapi ketika dia keluar pintu untuk kabur, langsung drop nontonnya karena ada Salju. ada salju tapi ada yang jualan lotek ayam. agak-agak gimanaaaa gitu....

adanya salju emang memperlihatkan adanya hujan darah dari Prakoso, tapi adegan hujan salju di settingan wilayah tropis, kayaknya enggak banget.

3. Orang Penting Naik KRL




Adegan ini adalah ketika hummer girl yang diperankan oleh Julie Estelle melakukan adegan pembunuhan di kereta. aneh yang pertama adalah si hummer girl bisa naro tas di kursi sebelahnya sementara ada penumpang lain yang berdiri. setahu saya, kehidupan di kereta itu keras. kursi adalah hal yang mahal.

selain itu, orang yang bisa bayar pengawal banyak, kenapa malah gak bisa beli mobil? kenapa harus naik KRL? belum lagi pengawalnya malah pake jas sementara bos nya cuma pake jaket. dan jarang ada orang pake jas naik KRL.

4. Sedan di Kebun Tebu



emang sih ini agak gak penting. tapi buat saya yang sering bahas mobil, ini tidak mungkin luput dari perhatian. jalan di tengah kebun tebu, pasti gak mungkin rata. menggunakan sedan, khususnya dari kelas premium,pasti kurang mumpuni untuk ke jalan ini. Penggunaan SUV mungkin lebih terlihat masuk akal meski kesan mewah akan sedikit berkurang.

5. Rawamangun, Senayan, Kemayoran dan mobil ancur yang masih bisa jalan.



Cerdas saat tahu Eka, yang diperankan Oka Antara mengemudikan mobil dengan trasmisi otomatis. dengan kaki kiri ketembak, dia emang gak mungkin neken kopling. tapi adegan dijalannya, bagi sebagian orang itu bikin ketawa. soalnya mereka kejar-kejaran di bawah fly over rawamangun, terus tiba-tiba kejar-kejaran berubah ke senayan dan berubah lagi di Kemayoran. terus berubah lagi ke SCBC dan Kemayoran lagi, bolak balik

Adegan ini nyaris gak mungkin terjadi, soalnya jaraknya jauh banget dan kondisi jalannya macet total. gak mungkin bisa kejar-kejaran sambil tembak tembakan dimari. selain itu, mobil yang dikemudikan Eka tuh udah ancur banget, kok ya bisa gitu masih jalan dengan kondisi begitu.

well, untuk adegan ini mungkin gak terlalu penting di lokasinya, tapi buat saya dan beberapa teman saya, ini agak menjadi bahan tertawaan. 

ya itu adalah hal-hal aneh yang ada di the raid 2 : Berandal. kalau mau menikmati filmnya, mungkin bukan dari sisi settingan ataupun cerita, tapi dari sisi actionnya. actionnya, emang keren. selamat nonton buat yang pengen nonton banjir darah disini.

foto:berbagai sumber

Jumat, 14 September 2012

Ringkasan Film Test Pack : You're My Baby

Dalam 2 bulan ini diluncurkan 2 film yang diambil dari 2 novel berbeda. Itu adalah Perahu Kertas karya Dee Dewi Lestari dan Test Pack karya Ninit Yunita. Bukan bermaksud membandingkan, namun ini memang menarik, keduanya memiliki pembaca setianya masing-masing. Tapi karena Perahu Kertas episode 1 udah pernah kita bahas, jadi mari kita bahas film lainnya yaitu Test Pack : You’re My Baby.



Sedikit ulasan mengenai novel, novel berjudul asli ‘Test Pack’ karya Ninit Yunita. Di terbitkan pertama kali tahun 2005 dengan tebal 202 halaman dan ukuran 13 x 19 cm. tema yang diangkat pun cukup dewasa yaitu tentang kehidupan keluarga yang tidak punya anak dan bagaimana ML sambil baca buku kamasutra (gak kebayang gimana susahnya). Dan, novel ini juga salah satu novel yang membuat gw ma Mega deket :p.

Sempat mau dibikin filmnya namun gagal, rupanya tidak menjadi hambatan untuk putus asa. Setelah beberapa tahun, akhirnya novel ini berhasil difilmkan. Siapakah sutradaranya? Dia adalah Monty Tiwa. Sutradara yang memang sudah terkenal dan gak bisa diapndang sebelah mata. Di tangannya, novel Test Pack dibuat menjadi ‘cerita baru’ yang bahkan nyaris tidak memiliki kesamaan dengan novelnya. Jadi adalah sebuah kesalahan kalau kita terlalu bersandar pada novel garapan teh Ninit Yunita, toh judulnya pun sudah beda menjadi ‘Test Pack : You’re My Baby’. Ya kalo mau dibandingin dikit-dikit gak apa2 kali yah? :p

Seperti yang udah gw katakan di paragraph 2 tadi, film ini punya kaitan antara gw dan Mega. Jadi untuk nonton ini, kami sangat antusias. Saking niatnya, kami sampe nonton di Bekasi Cyber Park padahal lokasi gw jemput Mega ada di Harmoni! Luar biasa bukan? Pokoknya lo harus bilang ‘WOW’. Sampe bioskop, setelah diperumit untuk nonton oleh satpam Blitz, akhirnya kami berhasil nonton dengan kondisi terlambat sekitar 15-30 menit. Penontonnya? Maaf, mungkin karena untuk masuk pun rumit, jadi ya penontonnya sepi.

Eniwei, gimana sih ceritanya? Pas gw masuk, ceritanya udah sampe si Arista Natadiningrat (di film Cuma disebut nama panggilannya, Tata) yang diperankan oleh Acha Septriasa mau tes kesuburan. Nah ia pun mendatangi dokter spesialis yaitu dr. Peni. S (Oon Project Pop). Si Tata ke dokter sama suaminya Rahmat (kalo di novel nama aslinya Rahmat Natadiningrat) yang diperankan oleh Reza Rahardian. Tata yang diperiksa, tapi Rahmat yang tegang. Hal ini pun dilampiaskan dengan mengotak-atik barang si dokter. Akibatnya dia gak bisa konsentrasi. Sumpah disini kocak. Gw aja yang bahasanya gak bisa kocak :p.



Tata diperiksa sekaligus menjadi pasien ‘tumbal’ buat anak-anak yang lagi Ko As. Liat mukanya si Tata pas diliatin dunk, kayak sembelit 7 bulan. Enggak enak banget. Tata pun memutuskan untuk mengikuti proses invitro, dimana si Tata bakal disuntik tiap hari pake hormon. Akibatnya, emosi Tata dijamin bakal naik turun. Di lain pihak, Shinta yang diperankan oleh Renata Kusmanto, mantannya Rahmat yang bekerja sebagai model kembali menghubungi. Ia berusaha menelepon Rahmat, namun tidak pernah Rahmat angkat. FYI, Shinta ini sudah pisah sama suaminya karena infertil dan masih cantik.



Setelah mengikuti invitro, ternyata Tata belum hamil. Dia masih menstruasi. Menangislah dia sejadi-jadinya. Drop. Sampe keesokan harinya, Tata akhirnya memutuskan untuk mengikuti invitro lagi. oh ya, disini si dr. Peni. S juga meminta agar Rahmat tes sperma hari itu juga. Rahmat menolak. Tapi dipaksa sama tu dokter. Akhirnya jadi dorong-dorongan wadah deh. Hohoho.

Beberapa hari kemudian, akhirnya Rahmat memutuskan untuk tes sperma, dia pun bertemu dengan Shinta. Mereka akhirnya makan di kafe RS. Gw gak tahu sih RS mana, tapi yang gw tahu, café dirumah sakit itu mahal-mahal. RS di Kalimalang misalnya, gw yang laper, liat harga langsung mendadak kenyang. Pokoknya ‘WOW’. Nah, hasil dari tes sperma si Rahmat ternyata mengecewakan. Ya, si Rahmat interfile. Rahmat pun memutuskan untuk merahasiakan ini terlebih dahulu dari Tata, dengan menyembunyikan hasil di balik tumpukan baju lemari.



Namun sayang, Tata menemukan surat hasil uji lab tersebut. Tata mengamuk sejadi-jadinya. Disini, pertengkaran mereka benar-benar ‘dapet’ kalo menurut gw. Kemarahan, kesedihan, semuanya, berhasil diaduk disini.

Pertengkaran tersebut membuat di Rahmat pengen curhat. Dia pun menemui Shinta. Pertemuan tersebut ternyata bukan sekali-sekalinya, namun terus berlanjut. Sampai suatu saat, si Tata nyari Rahmat ke café tempat nongkrong langganannya. Disini, dia melihat Rahmat dikasih baju sama Shinta. Gw gak tahu sih ya, bajunya asli apa kagak, tapi yang jelas, baju tersebut membuat Tata marah dan akhirnya memutuskan untuk pisah rumah, meninggalkan Rahmat.



Ditinggal membuat si Rahmat menjadi cowok yang sebenarnya. Jadi berantakan. Nah, si Shinta ternyata udah di rumah Rahmat dan masak pan cake buat dia. Aneh ya, main masuk aja? Gak dikira maling apa tuh orang? Berangkat dari sana, mereka pun mulai semakin dekat. Di lain pihak, si Tata pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di Jakarta. Ia mau ke Bangkok, ikutin temennya yang telah sukses disana.

Nah, si rahmat itu bekerja sebagai Psikolog buat menyelamatkan perkawinan. Di segmen ini, dia membentak, mengomeli, memarahi pasiennya “Kalian itu pasangan paling menyedihkan sedunia tahu gak?! udah bagus dua-duanya masih sehat.. umur-umur segini biasanya salah satunya udah masuk kubur! yang satunya lagi nangis-nangis gak punya penghasilan.. udah bagus punya anak! bapak ngaku kenal Ibu 30 tahun, sayur kesukaan Ibu aja salah! Ibu lagi, kebanyakan mikir! Ibu tuh lupa kapan pertama kali Ibu jatuh cinta sama bapak. coba diinget-inget lagi, diresapi lagi, dipikirkan kembali, kenapa yaa kita menikah? karena apa? jawabannya cuma satu, karena dua-duanya mau menghabiskan sisa umur yang ada sama-sama, untuk kebahagiaan bersama.kenapa saling cinta dua-duanya?karena apa adanya kalian, itu sudah saling melengkapi untuk terus menjalani hidup ini sama-sama. itu yang dulu saya bilang ke istri saya waktu akad nikah. dulu" ujarnya. setelah berkata demikian, dia pun tampak mikir kemudian pergi meninggalkan pasiennya (yang diperankan Meriam Belina dan Jaja Miharja).



mereka lihat-lihatan dan
"Ancol yuk?" ajak si Jaja Miharja
"abis dari Ancol Bali ya?" tawarnya
dan mereka pun kembali bersama. film selesai. lho? engak-enggak, belum kelar juga sih. masih jauuh.. dah capek ya bacanya? sabar yah

setelah pergi meninggalkan kedua figuran tersebut, Rahmat menemani Shinta belanja, dan kemudian mengantarnya pulang. disini gw kira ada noh adegan mesumnya, ternyata kagak... sayang... haha... Rahmat justru memutuskan untuk kembali ke Tata. ingin rujuk. namun, Tata rupanya telah mempersiapkan keberangkatannya untuk ke Bangkok.

akhirnya, Rahmat pun ke Bandara Soekarno Hatta terminal 3. kayaknya yah, gw kan gak pernah keluar negeri. mentok paling jauh ke terminal Rawamangun. Di Terminal Rawamangun adanya bis, dan gak ada yang ke Bangkok. sumpah kagak ada! gw gak bohong! setelah berputus asa, di Rahmat pun duduk ndelosor di lantai, menunduk. dan tiba-tiba, layaknya film romantis yang baik, Tata melihatnya. Rahmat pun meminta rujuk namun sayang permintaan tersebut ditolak.

"Kasih saya 1 alasan, untuk kita tidak cerai" titah Tata.
Rahmat pun diam dan akhirnya Tata pergi.

dirumah, Rahmat sendirian. rumah yang besar tersebut bikin kesan sepi, sendirian dan sebagainya. keren, pas  Rahmat ndelosoran lagi, tiba-tiba Tata duduk juga disampingnya.

"Tadi aku ketemu sama Pasien kamu. orangnya aneh ya?" ujarnya sambil tersenyum. Tata menceritakan pertemuannya dengan si Meriam Belina. si Meriam Belina ternayata masih apal muka Tata pas dia melihat foto kawinnya di Rahmat dan Tata. mereka mengucapkan terima kasih telah menyelamatkan pernikahan mereka.



"harusnya aku tidak meminta alasan kamu untuk tidak berpisah, karena tidak ada alasan juga untuk kita berpisah" tutup Tata. setelah itu, Tata dan Rahmat pun akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak. sedangkan Shinta, well, berakhir bahagia juga. sumainya kembali pada Shinta.

1 poin yang gw bingung dari akhir ceritanya. si Meriam Belina sama Jaja Miharjanya itu mau kemana yah? kan bukannya mau ke Bali? ke Bali kok di terminal 3 yah? bukannya penerbangan domestik itu di terminal 1 dan 2? hmm, entahlah, just enjoy the show,,, hehe...

secara keseluruhan, film ini memang sangat berbeda dengan novel yang sudah ada. namun jangan berkecil hati, karena filmya juga bagus. tidak bisa kita lihat satu-satu atau kita bandingkam, karena filmnya seperti "cerita baru" namun dengan "benang merah yang sama".

nilai moral:
Shinta dulu itu meninggalkan Rahmat, lalu kemudian gantian ia ditinggalkan suaminya, ia pun ingin kembali ke Rahmat namun sudah tidak bisa. dan Suami Shinta pun juga akhirnya kembali ke Shinta. yang gw tangkap adalah, terserah lo mau udah nikah ato masih pacaran, intinya adalah, jangan pernah sia-siain pasangan lo. syukuri pasangan lo, apa adanya dia. toh kalau dia berhasil menepati hati lo, gw yakin, dia memiliki sesuatu yang spesial. entah itu lo sadari ato tidak lo sadari.sesuatu yang spesial itu, tidak akan lo temukan di orang lain.

oke, itu aja, berminat untuk nonton?

Pemain :
Tata : Acha Septriasa
Rahmat : Reza Rahardian
Shinta : Renata Kusmanto
dr. Peni S : Oon Project Pop

pengarang Novel : Ninit Yunita
Sutradara : Monty Tiwa


Sumber
Indonesianfilmcenter.com, article.wn.com, neo.pakde.com, databasefilm.blogspot.com, merdeka.com, ceritamu.com, hiburan.kompasiana.com, dotsemarang.blogdetik.com

Senin, 27 Agustus 2012

Ringkasan Film Perahu Kertas


Pernah baca novel perahu kertas? Hmm jujur, buku ini adalah buku yang bikin gw dan Mega jadi deket. Abis baca buku buku ini, kita jadian. Hehee… jadi gimana yah,buku ini memiliki emang memiliki kenangan tersendiri. Jadi dulu, pas ngedeketin Mega, gw pinjemin Novel Test Pack gw dan dia pinjemin Perahu Kertasnya. Nah kebetulan, kedua buku tersebut di bikin filmnya. Dan keduanya, dalam waktu beredekatan…hmmm jodoh? Amin. Namun bukan itu yang mau gw bahas, gw mau bahas cerita di film ini.

Perahu Kertas

Sebelumnya gw mau ngutip hasil ReTweetnya @nsiskaa yang bunyinya "Film ke buku, buku ke film. Medianya saja sudah berbeda. mau dimiripin setengah mati sekalipun, ya nggak akan bisa sama". Yak, gw rasa itu adalah perkataan yang pas. Karena gw dan Mega merasakan hal yang sama akan film ini pas gw tonton ini di salah satu bioskop di Bekasi.

Di hari terakhir liburan Lebaran, gw akhirnya memutuskan untuk memanfaatkannya dengan nonton. Apalagi setelah tahu kalau di mol tersebut, nonton film Indonesia hanya Rp. 15.000. murah kan? Well, di pondok aja Rp. 25.000. wkwkwk. Perjalanan dari rumah ke rumah Mega dan ke mol gw lalui dengan sangat lancar. Jadi meski agak-agak mepet, namun its oke, jalan lancar jaya. Gw masih ontime. Pas mau beli tiket, gw akuin tempatnya udah penuh. Gw ambil posisi atas, yaitu di B. nah film pun dimulai.

Film dimulai dengan perkenalan si Kugy yang diperankan oleh Maudy Ayunda. Si pemeran Kugy menurut gw pas. Gak putih gak cantik, tapi manis dan enak dilihat. Karakter Kugy yang berantakan bisa enak sama dia. Abis itu perkenalan si Noni yang diperankan oleh Sylvia Rully R dan pacarnya Eko yang diperankan oleh Fauzan Smith. perkenalan ini sekaligus merangkum beberapa poin yang ada dibuku menjadi jauh lebih singkat dibanding dengan di novel. Agak sedikit ‘gimana’ gitu. Tapi yowis lah. Yang paling menarik dalam pembukaan ini adalah, pas Eko disuruh cepet – cepet sama si Noni.

“Iya ini juga dah ngebut ini” ucap Eko dengan mobil yang, mmmh, di dorong. Sumpah ngakak gw.
Pertemuan Keenan yang diperankan oleh Adipati Dolken dan Kugy pun dipercepat jadi keawal. Beberapa poin jadi agak lebih menyentak kedepan seperti saat Kugy memberikan buku dongengnya ke Keenan. Yups, ini agak terlalu cepet emang tapi poinnya dapet. Apalagi pas Kenaan baca dongengnya Kugy dan bikinin gambar buat dia. Abis itu dia nyerahin gambarnya ke Kugy

“Ini boleh gw pinjem?” ucap Kugy.
“Ini emang buat elo” ujar Keenan.

Belakangan Keenan baru tahu baru tahu kalo Kugy dah punya pacar. Yups, pacarnya Kugy, Ojos yang diperankan oleh Dion Wiyoko, dateng ke Bandung. Tak sengaja, Keenan liat Kugy lagi pacaran di kafe pas Keenan, Eko dan Noni lagi jalan-jalan

“Itu Kugy” ucap Keenan sambil nunjuk kea rah kafe. Disana ada Kudy dan Ojos lagi makan.
“Iya, dia lagi naik kasta” ungkap eko dan noni. Dan Keenan pun diam.

yang ini bikin mupeng

Beberapa adegan kemudian adalah saat si Kugy  ke Jakarta. Dia ketemu sama Keenan di kereta. Keenan yang tertidur selama perjalanan terbangun saat kereta berhenti di salah satu stasiun akbiat longsor. Dia yang menemui kursi Kugy yang telah kosong, akhirnya ia memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri rel. pas nyusurin rel, dia ketemu Kugy dan membahas mengenai cerpen Kugy yang masuk ke majalah. Keenan tidak suka sama cerpennya. Sayang, diadegan ini berbeda dengan yang di novel. Tapi ya balik lagi ya, kita lagi bahas filmnya, bukan bukunya. Hohoho.

Pas ketemu di rel kereta


Memasuki pertengahan film, drama mulai terasa lebih ngalir. Keenan diperkenalkan oleh Wanda yang diperankan oleh Kimberly Ryder, kurator lukisan sekaligus sodaranya Keenan. Noni pengen jodohin si Keenan dengan Wanda. Alhasil, menimbulkan kecemburuan di pihak Kugy. Sebagai kurator, Wanda melihat bakat si Keenan akan seni lukis. Ia pun menawarkan untuk menjual lukisan Keenan di galeri bapaknya.
Nah, pas pamerannya digelar, temen-temennya Keenan hadir. Kecuali Kugy. Dia dah sampe sih didepan galerinya, tapi dia melihat kedekatan Keenan dengan Wanda. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak hadir. Dengan menanggung rasa kegalauan yang membuncah, ia pun akhirnya memutuskan untuk mengajar di sekolah darurat didaerah yang tepencil.

Kesibukan yang memang disengaja pun akhirnya membuat Kugy menjadi menjauh dengan teman temannya. Well, dia memang sibuk untuk menghindari temen-temennya sih ya?Puncaknya adalah saat dia tidak menghadiri pesta ulang tahunnya Noni. Akibatnya, Noni pun mengamuk dan yah, gitu deh.. persahabatan mereka pun luluh lantak.

Dilain pihak, Keenan merasa berhasil karena lukisan nya sold out. Ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan laporan sama bapaknya. Hasilnya? Layaknya Malin Kundang, Keenan pun diusir dari rumah. Ditengah pengusiran tersebut, ia tetap menghadiri ke ultahnya si Noni. Dan konflik Keenan pun dimulai. Wanda yang mabuk dibawa Keenan ke kamar. Dikamar ini, Wanda ngamuk karena Keenan tidak juga merespon cintanya. Kalap, mabuk dan emosi rupanya tidak hanya buruk untuk kesehatan tapi juga buruk untuk untuk kehidupan. Wanda melempar lukisan Keenan yang disembunyikan di kolong kasurnya ke Keenan. Iyah, Wanda rupanya yang telah membeli semua lukisan Keenan. Keenan mengamuk, ambil lukisan dan meninggalkan Wanda sambil berkata

“Kamu bisa membeli lukisan aku, tapi kamu gak bisa membeli aku” ujarnya sambil lalu. Ditengah kegalauan, ia menemui Kugy di sekolah darurat. Disini Keenan diberi kan buku dongeng oleh Kugy yang terinspirasi oleh sekolah daruratnya, Sekolah Alit. Dan disini juga, Keenan mengatakan untuk berhenti melukis. Kugy kecewa sampe nangis dan akhirnya Cuma bisa meninggalkan Keenan dengan kecewa.

“Ternyata gw terlalu tinggi menilai elo” ujar Kugy.  

Kugy kasih buku dongeng ke Keenan


Dan Keenan pun akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bali bersama Pak Wayan yang diperankan oleh Tio Pakusadewo. Disini Keenan berusaha untuk mendapatkan kemampuan melukisnya yang telah direnggut oleh keadaan. Namun rupanya sulit. Ia hanya menemukan sebuah kanvas putih. Nah, disini Keenan bertemu dengan Luhde yang diperankan oleh Elyzia Mulachela. Luhde lah yang selalu menemani Keenan setiap pagi. Perlahan namun pasti, Keenan kembali melukis. Lukisannya, terinspirasi dari dongeng Kugy mengenai Sekolah darurat Kugy. Lukisannya pun berhasil menarik minat salah seorang pembeli, yaitu Remi yang diperankan oleh Reza Rahardian.

Lukisan yang di beli Remi


Disisi lain, Kugy pun hidupya mulai berantakan. Ia akhirnya putus dari Ojos akibat mangkir dari janjinya. Si Kugy sudah janji untuk liburan ke Bali sama Ojos (Iyah, enak banget ya liburannya, gw mau liburan sama pacar gw ke Puncak aja gak bisa bisa) namun rupanya jadwal keberangkatannya bentrok sama lombanya Sekolah Alit.

“Kita buat simple, kamu besok aku tunggu di Bandara. Kalo kamu gak dateng, maka udah gak ada lagi yang peru kita bicarakan” ucap Ojos.

Dan yah, Kugy lebih memilih Sekolah Alit dari pada Ojos. Andai itu adalah kenyataan, maka gw kasian sama Ojosnya. Kasian nunggung, bawa tiket lebih macam calo lagi nawarin tiket.. wkwkwk…sepeninggal Ojos, Kugy lebih konsentrasi kuliah dan jeng jeng jeng, Kugy lulus kuliah. Ia pun magang di salah satu kantor iklan bernama Advocado. Siapa pemiliknya? Namanya Remi. Haha.

Setelah melalui perjuangan sebagai pegawai kasta terendah, yaitu anak magang, ia pun berhasil menelurkan ide brilian untuk sebuah iklan. Dan ia pun menjadi pegawai tetap. Nah, belakangan, Noni pun akhirnya sadar akan kesalahan yang menyebabkan hubungannya dengan Kugy retak. Ia menemukan buku dongengnya Kugy yang buat Keenan. Dari sini, penyesalan pun datang. Ia memutuskan untuk minta maaf sama Kugy dan lain sebagainya.

Disisi lain, Keenan pun telah menjadi pelukis yang dikagumi. Sayang, bapaknya kena stroke. Ia pun memutuskan kembali ke Jakarta dan memimpin perusahaan bapaknya. 1 poin penting, perusahaan tekor hingga lebih dari Rp. 200.000 dolar. Banyak yee? Rumah gw aja gak sampe 200.000 dolar. wkwkwk

Keenan yang kembali ke peradaban pun akhirnya bertemu kembali sama si Eko. Rupanya si Eko sama Noni mau nikah. Pas Keenan menjadi pendamping, si Kugy dateng telat dan akhirnya mereka ketemu. Cerita belum selesai kawan. Si Eko rupanya salah mulu tuh pas Akad. Akhirnya pas ketiga, Eko berhasil mengucapkan dengan benar. Kalo diliat sih lucu, tapi kalo dalam dunia nyata, itu serem banget lho.

Si Keenan dan Kugy pun mulai ngobrol, tapi tidak terlalu ditekankan disini. Toh mereka punya kehidupannya masing. Film pun berakhir saat Kugy mencium Remi pas malam tahun baru. Yups, mereka jadian, dan film pun bersambung.

Secara keseluruhan filmnya sih bagus, tapi kalo lo dah baca bukunya, gw rasa agak sulit untuk terima kalo filmnya terbagi dua. Soalnya beberapa adegan udah dipotong dari pertama film dimulai. Tapi balik lagi ke awal, medianya aja udah beda, mau disamain setengah mati juga tetep aja beda. Iya gak? Apalagi yang sutradarain si Hanung, jadi meski beda, gw rasa point-point nya masih bisa didapatkan, hal yang mungkin tidak bisa didapatkan bila yang sutradarain adalah orang lain.oh ya, yang paling gw sukai di fim ini adalah detail-detailnya. mulai dari uang sampai HP, semua disesuaikan dengan tahun kapan cerita bergulir, yaitu tahun 1999 dan 2003. saking detilnya gw ampe penasaran, masa gak ada yang miss sih? dan akhirnya setelah gw pelototin gw menemui hal detil kecil yang miss, yaitu plat mobil. plat mobilnya berakhir tahun 2012. padahal cerita diambil tahun 1999 dan 2003 sedangkan plat harus diganti tiap 5 tahun. wkwkwk...  Ya udah itu aja dulu. Kalo mau nonton, nonton aja.. keren kok. Insya Allah gak nyesel.

Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahardian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Kimberly Ryder sebagai Wanda
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smitih sebagai Eko
Tio Pakusadewo sebagai Pak Wayan
Ben Kasyafani sebagai Karel

Sumber: Tempo.com, hiburan.plasa.msn.com, fimroll.com, kawankumagz.com

Kamis, 15 Desember 2011

Piyu: Sakit Hati Bukan Alasan Untuk Bunuh Diri


Ada yang lain dengan Blitz Megaplex pada tanggal 14 Desember kemarin. studio bisokop yang biasanya digunakan untuk nonton film ini disulap menjadi sebuah tontonan menarik dari aksi Piyu dan rekan rekannya. gitaris kondang yang melejit bersama Padi ini rupanya merilis film pendek pertamanya yang berjudul 'Sakit Hati' yang merupakan visualisasi dari single terbarunya yang berjudul sama.

"yang menjadikan film ini berbeda adalah, kebanyakan lagu terinspirasi dari film. namun kali ini berbeda. kali ini justru filmlah yang menjadi visualisasi dari lagu yang dibuat" ungkap Piyu saat konferensi pers berlangsung. lho? apa bedanya dengan video klip yang juga merupakan visualisasi dari sebuah lagu? Piyu pun memberikan komentar yang cukup tegas "jika video klip, itu hanya sebentar, hanya 3-4 menit. kadang pemirsa justru tidak mengerti jalan cerita dari video klipnya. nah, di film pendek ini justru akan memudahkan pemirsa untuk memvisualisasikan lagu tersebut" ungkapnya.

film ini menceritakan mengenai sepasang kekasih bernama Gery dan Lisa. mereka menjalin kasih sejak SMA. namun kemesraan ini mereka berubah tatkala mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Lisa berubah dan mulai masuk kedalam kehidupan malam. sangat kontras jika dibandingkan dengan Gery yang bekerja susah payah disebuah bengkel kecil. kerenggangan memuncak saat akhirnya Gery memergoki Lisa berselingkuh dengan lelaki lain. saat Gery meminta penjelasan, Lisa justru mengusirnya.

ditengah kesedihan yang melanda, Gery akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang musisi dengan mengandalkan lagu ciptaannya yang berjudul 'sakit hati'. ia pun menjadi sukses dan terkenal. Lisa yang melihat perubahan Gery pun akhirnya memohon agar Gery kembali bersamanya. namun permintaannya ditolak.



sayang, dalam film ini Piyu hanya muncul beberapa kali. bahkan jangan menunggu Piyu berkata, ia bahkan tidak mendapat dialog "disini saya memang berperan sebagi guardian angel. jadi seperti malaikat pelindung dari Gery. hanya Gery yang dapat melihat saya. nah, fungsi dari guardian angel ini adalah ia menjaga agar Gery tidak kehilangan jalur dalam hidupnya" ungkapnya

lantas pesan apa yang ingin disampaikan dalam film ini? Piyu pun menjawab dengan gamblang "sakit hati tidak boleh menjadi alasan untuk jatuh ke narkoba, bunuh diri dan hal hal negatif lainnya. namun harus dijadikan sebagai pemicu untuk terus bekerja dan berkarya" ujarnya optimis



visualisasi dalam bentuk film ini rupanya tidak hanya berhenti pada film pendek ini saja "dalam film ini, kami tidak hanya memperkenalkan lagu 'sakit hati' saja, namun juga beberapa lagu lainya. nah dari lahu lagu tersebut akan kami buatkan film pendeknya juga, lalu nanti akan kami gabungkan dengan yang lain, sehingga tercipta sebuah film panjang yang utuh" tambahnya.



yang unik dari launching ini adalah, munculnya beberapa penyanyi yang ikut terlibat dalam pembuatan albumnya. tak ayal studio pun berubah bak konser seadanya "enaknya dari mengeluarkan album sendiri adalah kita bisa ambil point of view yang lebih luas. jika di band saya hanya terpaku pada sudut pandang laki laki, di album ini saya bekerjasama dengan penyanyi wanita yang memberikan sudut pandang yang berbeda" tutupnya.