Kamis, 16 Mei 2013

Liburan Ke Kawah Putih

Long weekend ya kemaren? Well me too. Khusus untuk long week end kemaren, gw bela-belain untuk minta libur di hari Sabtu Minggu dan cuti di hari seninnya. Padahal, pas hari Sabtu ada peluncuran mobil yang sesungguhnya sangat penting untuk ngejar kuota yang semakin terpuruk ini. Namun semua fine lah dengan liburan gw.

Liburan yang pengen gw certain bukanlah di hari sabut atau minggunya. Tapi malah di hari Seninnya. Lho kenapa kok di hari senin? Soalnya gw cabut ke Kawah Putih sama cewek gw, Mega. Dan ini, sumpah layak banget diceritain.

Selama perjalanan, jalannya lancar Jooon… soalnya mungkin emang udah hari kerja yah? Jalannya nanjak mana-mana, tapi Alhamdulillah, kita berhasil melaluinya dengan selamat sentosa pada pukul 10an kalau gak salah. Cengoknya adalah pas mau masuk, biaya masuk masuknya Rp.150.000 sediri. Sementara buat orangnya Cuma Rp. 25.000. kalau mau naik angkot juga bisa sih, bayar lagi Rp. 15.000 per orang. Tapi kami lebih milih pake mobil nanggung soale. 



Perjalanan dari loket masuk sampe kawah putihnya melalui jalan cukup berliku dengan tanjakan yang curam.ada beberapa rambu yang menyarankan menggunakan gigi 1, tapi gak selamanya berlaku. Kadang gw pake gigi 2. Oke, ini salah. Ini blog bukan test drive. Stop it. Yang jelas jalannya mulus dengan pemandangan yang cukup wow menurut gw. 



Sampe parkiran atas, kita langsung pake jaket dan masker. Dari sana masih harus naik sedikit ke tempat saung apaaaa gitu. Abis itu baru deh turun ke kawah. Pas pertama kali lihat kawah, mega berucap “Subhanallah” sedang gw “anjing keren banget”. Sama sama mengagumi, tapi beda caranya. Yang satu alim banget, yang satu bangsat banget. 


Disana kita gak boleh terlalu lama. Cuma diperbolehkan 15 meint. Soalnya dikhawatirkan racun dari kawahnya bakal bikin mual dan sebagainya. Tapi karena kita udah bela2in jauh jauh dari Jakarta dan mengambil cuti yang sudah 2 tahun belum diambil, maka cuek aja. Wkwkwk. Kira2 kita kuat selama 30 menitan, setelah itu kita ke mobil lagi. Ambil napas sekitar 15 menit dan kembali ke kawah. 





Perjuangan sih sebenarnya disana, tapi sumpah pemandangannya emang bagus banget. Oh iya, untuk disana, kita pake tripod. Niat yee? Disana mah pada foto2 ama rombongan. Lha inikan Cuma berdua. Hehe.
Pas pulang, Mega minta bakso. Sayang, jalannya macet. Jadi kita makan di rest area 97. Makanannya? bakso sih, tapi standardlah. Masih lebih enak sayur asem pake ayam di Lembang. Hehehe..




Nah ini Liburan gw. liburan lo gimana?

Senin, 11 Februari 2013

Kisah Panglima Yang Menjadi Pertapa

Dahulu kala, hiduplah seorang anak bernama Handoko. Ayahnya adalah seorang panglima perang dari kerajaan Balaraja. Hidupnya penuh kemewahan dan kekayaan. Namun, hidupnya berubah ketika kerajaan Tanahmerah menyerang kerajaan Balaraja. Ayahnya, yang merupakan panglima kerajaan, tewas dibunuh oleh Panglima Tanahmerah yang bernama Wanamerta.



Hidupnya makin sulit saat Raja Balaraja mengakui keunggulan Tanahmerah. Seluruh hartanya dirampas dan Ibunya sakit-sakitan. Ibunya yang sakitnya semakin parah akhirnya menghembuskan napas terakhirnya didepan Handoko. Handoko yang sedih bukan kepalang akhirnya berjanji untuk membalaskan dendam orang tuanya “Aku bersumpah demi bumi dan langit, aku akan membunuh Wanamerta dan mengembalikan kehormatan keluarga kita” janjinya.

Ia pun pergi mengembara tanpa arah. Ia hanya mengikuti kakinya melangkah. Hingga di suatu hari, ia menginjakkan kaki di kerajaan Cadas Watu. Kerajaan kecil yang mengandalkan hasil laut guna menopang hidup.

Disana ia mulai belajar untuk menjadi tentara kerajaan. Kemampuannya berkembang pesat. Hanya sebentar saja, ia sudah sangat menonjol diantara prajurit-prajurit yang lain. Ternyata, prajurit-prajurit disana sedang dipersiapkan untuk menyerang kerajaan Tanahmerah.

Suatu hari, akhirnya Cadas Watu resmi menyerang Tanahmerah. Handoko yang kemampuannya menonjol pun diutus menjadi kepala regu yang memimpin 1000 orang prajurit di garis terdepan. Sebagai garis terdepan, tentunya sangat sulit menembus pertahanan Tanahmerah. Namun dengan kemampuannya, ia berhasil cukup memberikan pukulan kepada tentara kerajaan Tanahmerah.



Kesuksesannya pun membawa ia dipercaya untuk memimpin perang dikemudian hari. Hingga suatu hari, terjadilah perang besar-besaran antara Cadas Watu dengan Tanah Merah. Handoko pun melihat Wanamerta berada ditengah-tengah pertempuran.

Dengan sigap, Handoko pun menyerang Wanamerta. Handoko yang menggunakan tombak langsung menyerang Wanamerta dengan sigap. Wanamerta yang melihat pergerakan Handoko pun terkejut. Namun ia adalah Panglima perang kerajaan yang ilmunya tidak sempit. Ia hanya perlu mengibaskan pedangnya untuk menghindari serangan tombak dari Handoko.

“Jadi kau adalah Handoko yang selama ini diperbincangkan? Kepala Regu yang berhasil merusak pertahanan Tanahmerah?”

“Iya, itu adalah aku. Dan kini sudah saatnya aku untuk membalaskan dendamku” tegas Handoko. Sejurus kemudian, ia pun langsung mengincar leher Wanemerta. Wanamerta pun kembali menggagalkan serangannya. Sesaat tombak Handoko tertebas pedang, saat itu juga Wanamerta memberi pukulan pada ulu hati Handoko. Handoko yang tidak menduga seragan tersebut hanya mampu menangkis serangannya dengan tangan. Meski begitu, Handoko pun terpukul mundur beberapa langkah surut.



Tak mau kehilangan kesempatan, Wanamerta langsung menyerang Handoko. Pedangnya yang tajam langsung menusuk menuju arah dada kiri Handoko. Namun Handoko kini telah lebih siap akan serangan Wanamerta. Baginya, tusukan pedang tersebut sangat mudah terbaca. Handoko memutarkan tombaknya dan berhasil menggagalkan serangan Wanamerta. Sesaat kuda-kuda dari Wanamerta terbuka. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan Handoko. Tombaknya langsung ia tusukkan ke pinggang Wanamerta. Sesaat, Wanamerta pun tewas.

Tewasnya Wanamerta langsung terdengar keseluruh penjuru peperangan. Semangat bertarung para prajurit Tanahmerah pun langsung pudar. Tidak lama, Tamanmerah pun mengakui kekakahannya.

Handoko pun akhirnya dikenal sebagai pahlawan Cadas Watu. Ia pun diberikan pangkat tertinggi sebagai Panglima kerajaan. Keberhasilan tersebut, ia rasakan sebagai bukti kembalinya kehormatan kedua orang tuanya yang telah direbut.

***

Suatu hari, Handoko berjalan-jalan sendiri kedaerah-daerah, untuk mengetahui kondisi kerajaan Cadas Watu yang sudah menjadi besar. ia tiba ke desa kumuh yang beberapa diantaranya adalah bekas prajurit Tanahmerah. Disana ia meminta air untuk minum dan kemudian berkeliling. Di satu rumah ia melihat anak kecil yang duduk menemani Ibunya yang tengah terbaring sakit.

“Ibu, aku berjanji demi Dewa dilangit. Aku akan membunuh Panglima Handoko dan mengembalikan kehormatan keluarga kita!” teriaknya.

Sesaat, Handoko pun tersentak. Ia seperti melihat dirinya semasa masih kecil. Ia pun melepas baju kebesarannya dan mendatangi anak dan ibu tersebut.

“Ada apa dengan Ibumu nak” Tanya Handoko

“Ibuku sakit! Sejak ayahku tewas dibunuh Handoko, aku jadi jatuh miskin dan Ibuku jadi seperi ini!” teriaknya

“Memangnya siapa ayahmu?”

“Wanamerta. Panglima dari Tanahmerah” ucapnya getir.

Handoko pun terkejut. Sesaat ia pun menitikkan air mata. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Dirumah, ia merenung. Segala kekayaan yang ia dapatkan adalah karena ia berhasil mengalahkan Wanamerta dan membalaskan dendam. Namun ia kini sadar bahwa membalas dendam tidaklah menyelesaikan masalah, namun justru membakar dendam –dendam yang lain.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk menjadi pertapa. Hartanya disumbangkan ke seluruh keluraga yang ditinggal meninggal oleh para prajurit yang tewas dalam peperangan. Sejak itu, ia pun tidak pernah muncul dan tidak ada kabarnya lagi

Terinspirasi dari: Dongeng di Bobo tahun 90an, novel Nagasastra dan Sabuk Inten.
sumber gambar : wartariau.com, temperer.wordpress.com, blogbukuhelvry.blogspot.com

Kamis, 17 Januari 2013

Banjir Jakarta - Banjirnya Adil Dan Merata


Di kala orang-orang mengatakan kalau hukum di Indonesia itu tidak adil, tidak demikian dengan banjir. Banjir di Jakrta, menurut pantauan aku, cukup merata. Well, setidaknya ini berdasarkan pandangan mata aku aja yah.

Hari ini aku berangkat ke kantor agak lebih pagi. Kondisi jalan rada macet dan cuaca hujan lebat. Dijalan dari Jatiwaringin menuju Rawamangun lumayan banyak genangannya. Aku udah berdoa aja supaya motornya gak mogok. Sampe kantor, ternyata masih pada belum datang. Alhamdulillah. Hehe.

Tapi, aku di kantor gak lama, soalnya ada liputan di Senayan. Karena hujannya makin lebat, akhirnya aku memutuskan buat pake jas hujan rangkap 2. Hasilnya, Alhamdulillah gak setembus pas dari rumah ke Rawamangun (dari rumah ke kantor tembus jas hujannya). Tapi pas sampe Arion, ternyata banjirnya lumayan dalem! Sepinggang orang dewasa Jon! Aku pun langsung puter balik dan mikir, apa cancel aja ya liputannya. Tapi karena takut dipecat, ya ladenin saja. Banjir pun akhirnya aku terabas.








Pas sampe Pramuka, banjir makin parah. Jalur lambat udah matek. Demikian juga perempatan matraman. Underpassnya udah ditutup. Pas sampe di pintu air Manggarai, jalan udah pada ditutup. Terowongannya udah kemasukan air lumayan dalem. Jadi kudu lewat jalan lain. Nah, di Pintu Air Manggarai ini, aku sempat berhenti buat liputan sebentar. Tapi ternyata kameranya kemasukan air dan gak bisa di pake. Huks-huks.







Perjalanan ke Senayan kembali dilanjutkan. Tapi masuk jalan Sultan Agung, jalan kembali pada ditutp. Tapi aku nekat trabas dan Alhamdulillah berhasil berjalan dengan baik. Di jalan raya pejompongan, sempat stak lagi. Banjirnya kali ini lumayan tinggi. Mesin motor kena lah pokoknya, namun nekat lagi. Pas liat bensin motor udah dibawah garis, aku agak panic, namun Alhamdulillah ada pom bensin yang buka. Bisa gawat kalau bensin abis di tengah banjir.



Sampe lokasi liputan, sekitar pukul 10. Dengan kondisi kamera gak bisa dipake, leptop basah dan baju lumayan lepek. Alham dulillah temen aku mau pinjemin kameranya dan bisa liputan seperti biasa. Oh ya, pas pulangnya Alhamdulillah lebih labcar. Cuma banjir di pejompongannya aja. Namun sisanya jalannya lancar jaya! Yeay!
Ya udah, itu aja dulu. Semoga gak banjir lagi. amin 

Rabu, 16 Januari 2013

Akhirnya Linci Bertemu Teman

Di sebuah hutan yang lebat, hidup sebuah keluarga kelinci yang berbahagia. hidup mereka tentram tanpa ada binatang buas yang mengintai. keluarga tersebut memiliki anak semata wayang bernama Linci. Linci hobinya berlari. setiap hari kegiatannya hari berlari di kebun miliknya. namun ia sama sekali tidak pernah mengajak teman-temannya untuk berlari bersama. alasannya sederhana, agar ia lebih bebas. ia merasa bahwa dengan berlari sendiri, ia tidak perlu memikirkan teman-temannya yang berlari terlalu pelan dan ia juga tidak perlu merasa malu bila ia berlari terlalu pelan dibandingkan teman temannya.



namun, Ibunya tidak suka melihat Linci hanya bermain sendiri. Ibunya merasa sudah saatnya untuk Linci belajar memiliki teman. ia pun memutuskan untuk membujuk Linci agar merubah sikap acuhnya

"Linci, tidak kah kamu merasa kesepian bila hanya bermain sendiri?" tanya Ibu Linci
"Tidak Bu" jawab Linci.
"Bukankah lebih menyenangkan kalau bermain bersama teman-teman?"
"hmm, tidak bu. aku kurang bisa mengerti teman-teman. kalau mereka terlalu pelan berlari, aku malas menunggu mereka. namun bila mereka terlalu cepat, aku takut diperolok." ungkapnya.

Ibunya pun hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawaban Linci. Meski ia senang melihat Linci berbahagia dengan hidupnya saat ini, namun ia yakin kebahagiaan Linci dapat lebih berkali-kali lipat bila ia bersama dengan teman temannya. maka suatu hari ia pun memutuskan untuk melarang Linci bermain di kebunnya.

"Linci, jangan main di kebun. coba kamu keluar dan bermainlah bersama dengan teman temanmu" ungkap Ibu Linci. larangan Ibunya ini sontak mengagetkan Linci yang biasa bermain sendiri.
"Kenapa tidak boleh bermain dikebun?" tanya Linci pada Ibunya
"Bukan tidak boleh Linci, namun sebentar lagi kebun kita akan panen. bila kamu bermain dikebun, takutnya kebun akan rusak. coba kamu bermain di dekat sungai" ungkap Ibunya.

mendengar itu pun, Linci merasa sedih. namun ia tetap mematuhi perintah Ibunya untuk bermain disungai. di sungai ia pun berlarian kesana kemari. selain berlarian, ia pun juga bermain air.

"wah, sepertinya kamu seru sekali main disitu. boleh ikut?" tanya anak gajah yang tiba tiba sudah memperhatikan Linci sejak lama.
"Kamu siapa? aku tidak pernah melihatmu" tanya Linci.
"Namaku Bela. aku Gajah dari utara. boleh aku bermain bersama kamu?" jawab gajah tersebut
boleh saja, namun jangan ganggu aku" jawab Linci
"Aku tidak akan menggangumu, aku hanya ingin ikut bermain air bersama kamu" tambah Bela.



Linci pun mulai bermain dengan Bela. cukup seru permainan mereka. Bela menembakkan air dari belalainya kearah Linci. namun Linci selalu berhasil mengelak dari semprotan air bela. saking serunya permainan mereka, mereka pun jadi agak kurang berhati-hati. ada kulit pisang sisa makanan Orang Utan disana. Linci yang tidak melihatnya pun menginjaknya, terpeleset dan jatuh ke sungai.

"Tolong-tolong! aku tidak bisa berenang" teriak Linci setengah tenggelam.
"Tunggu Linci, aku akan menolongmu" teriak Bela menenangkan. Bela pun menjulurkan belalainya guna meraih Linci yang mulai tenggelam. namun belalainya kurang panjang. Bela pun mencari akal. tiba tiba di matanya menangkap sebuah sulur panjang yang dirasanya cukup kuat.
"Tangkap ini Linci!" teriak Bela sambil melempar sulur tersebut.

Linci pun menangkap sulur tersebut dan kemudian langsung ditarik Bela. bela adalah anak Gajah yang tentunya tenaganya tidak sebesar Ibunya. Ia harus susah payah menarik sulur tersebut. usahanya tidak sia-sia, Linci berhasil diselamatkan ke sisi sungai.

"Terima Kasih Bela, kamu telah menyelamatkanku" ucap Linci
"Iya sama-sama" jawab Bela

setelah kejadian tersebut, Linci sadar bahwa jika ia bermain sendiri, pastinya dirinya sudah mati. ia sadar bahwa memiliki teman sangatlah penting. baik saat suka maupun duka, teman akan selalu menemani dan saling menghargai.

Senin, 31 Desember 2012

My Last Post In 2012

Ini postingan terakhir untuk tahun ini. udah 48 postingan, termasuk postingan ini yang gw buat. lebih sedikit dibanding tahun lalu, dan pembacanya masih jauh lebih banyak tahun lalu. tapi alhamdulillah, masih ada yang baca dan dunia belum kiamat. resolusi 2013? gw cuma pengen lebih lancar bokernya...

tahun baru kemana? gw rencananya sih mau pacaran sama Mega ke Car Free Night di Bunderan HI. mudah2an masih dapet parkir. hohoho. amin..

oke, itu aja... see you

Rabu, 12 Desember 2012

Normal VS Not Normal

Hari ini gw liputan di Bogor mengenai perkenalan tagline salah satu brand mobil. tagline yang diusung adalah 'Not Normal'. Not Normal diambil karena mobil tersebut memang tidak normal dan cenderung bandel. keluar dari pakem yang ada dan lebih mengeluarkan karakter sesungguhnya dari si pengguna.dia pun menambahkan dengan sebuah pertanyaan "siapa sih yang pengen normal? siapa sih yang mau sama segala sesuatunya dengan orang lain? handphone aja pada gak mau sama kan? pasti pengen beda meski hanya tampilannya saja"

dan entah kenapa gw mendadak pengen nyaut "Saya Bos.. saya pengen punya jam tangan yang sama ma cewek saya, sayang aja gak kesampaian" hehehe... yeah, thats me... unikkan? yeah, gw pengen sama, gw pengen normal, karena gw tahu sulitnya hidup not normal.

usia gw udah seperempat abad, dan gw masih suka baca komik, gw masih suka nonton kartun dan gw masih takut nonton horor. meeen, Thats the real NOT NORMAL!!!! klo lo cuma pengen tampil beda, ITU NORMAL... BASI!!!

Not Normal adalah saat cewek lo pengen nonton horor, dan lo takut buat nemenin. itu not normal. padahal kalo ikut nonton, jelas ketahuan dia meluk siapa kalo ketakutan. ELO!! lha kalo lo gak ikut nonton macam gw? siapa yang dia peluk? mana tahu... popcorn? tumpah semua lha itu makanan.

mulai dari diketawain akan hobi gw sama orang-orang sekitar gw dan bahkan keluarga gw, sampe dijutekin cewek gw karena gw takut nonton film horor. itu semua udah gw jalanin sampe sekarang. pengen jadi not normal? try to be me.

normal juga dikatakan sebagai membosankan. tapi entah kenapa, gw sebagai orang yang not normal, selalu pengen punya kehidupan yang normal. simple aja. gw pengen kerja layak, punya mobil, rumah, istri, anak 2 ato 3, sekolahin mereka, naik haji, pensiun, gendong cucu gw sambil menikmati masa tua di rumah dengan perkarangan luas yang penuh dengan pohon mangga dan duren, trus mati qusnul khotimah sebelum istri gw mati. simple. gw pengen gitu.

tapi toh hidup gw not normal. sabtu minggu kerja, harusnya tidur malah ngeblog, tiap hari liputan mobil tapi gak beli2. nyeeh, masih jauh meen dari normal. nah gw yang not normal aja pengen normal kenapa malah yang normal dan punya segalanya malah pengen not normal?

think out of the box. yeah, I know,,, kita harus keluar dari kotak. tapi klo gw yang punya keinginnan normal adalah aneh, maka yang not normal itu siapa? yang out of the box itu siapa? think again. its not an easy to be me :)

jadi, harusnya bagaimana? Not Normal setiap orang itu berbeda. setiap karakter berbeda. mungkin normal buat gw, tapi ga normal buat lo. intinya ya saling menghargai aja. tunjukkan saja karaktermu, seperti apa dirimu. normal or not normal, just be yourself...

Minggu, 02 Desember 2012

Menjelajahi Monumen Pancasila Sakti

Libur panjang kemaren pada kemana? Well, klo aku sih jalan-jalan. Lokasinya jauh pula. Jauh banget dari rumah aku di pondok gede, ya lokasinya adalah Lubang Buaya!!!*Jeng jeng jeng* #musikserem. Mmmh, ya sebenarnya gak jauh sih. Deket banget malah. Cuma 15 menit perjalanan. tapi karena aku terakir kesini mungkin pas SMP, jadi ya anggap aja jauh lah ya?

Masuk kesini bayar harusnya Rp. 4500. Itu udah termasuk bayar PMI, tiket masuk dan parkir. Tapi petugasnya bakal minta Rp.5000. terus meski udah bayar parkir, aku tetep kudu bayar parkir lagi Rp. 1000 di dalem. Aneh sih managementnya. Tapi ya emang kayak gitu.




Disana kita akan menemukan beberapa rumah yang dugunakan saat G30SPKI. Rumah-rumahnya masih dalam bentuk asli yang lumayan terawat keasliannya. Didalemnya juga ada diorama yang menggambarkan kondisi saat penyiksaan para jendral dan letnan satu. Suasananya emang serem. Malah untuk beberapa rumah aku gak berani masuk. hehe


Untuk sumur, kondisinya ya seperti itu, masih seperti sumur pada umumnya. Ada tulisan untuk tidak melempar sampah, tapi gak mempan. Ada kok beberapa yang melempar sampah disana. Payah. Di depan sumur juga ada patung-patung pahlawan dimana patung Jendral Ahmad Yani ditempatkan di depan dan menunjuk sumur, lokasi mereka dikuburkan.






Selain itu ada juga beberapa kendaraan. Diantaranya adalah kendaraan dinas Ahmad Yani dan mobil dinas pak Harto. Mobil Ahmad Yani yang menarik. Ban belakangnya ceper juga. Setirnya juga ada dikiri. Klasik banget. Ada juga beberapa replika truk dan panser yang mengangkut pasukan.

Nah, setelah itu aku masuk kedalam musem. Suasananya gelap dan agak horror. Disini dioramanya nunjukin sejarah PKI. Nyaris disemua diorama diberi penjelasan. Bagian paling gak tega lihatnya menurut aku adalah yang bagian masyarakat di ditelanjangin, dibunuh dengan cara digorok dan kemudian dibuang ke sumur (dioramanya detail banget. Sampe bekas gorokannya pun ada)


Paling aneh adalah pas lihat sejarah Supersemar diberikan ke 3 anggota TNI. Disini semua papan namanya rapi, kecuali 1 yaitu papan nama Bung Karno yang lecek kayak abis dikuwel-kuwel dan kondisinya terbalik. Entah kenapa bisa kayak gitu. padahal semuanya rapi. Hmm, ada apa Bung Karno?


Ada juga sisa-sisa baju yang para pahlawan gunakan terakhir kalinya. Kondisinya masih seperti asli. Ada sih beberapa jahitan sisa ngelepas pakaian pas visum. Oh ya, ada juga hasil visum dan kondisi mereka yang baru diangkat dari sumur. Semua ada, lengkap. Bahkan ada juga tulisannya Ade Irma Suryani, anak dari A.H. Nasution.



Ada juga pameran foto tentang operasi PKI. Lucunya, yang hasil karya TNI AD, nyaris semuanya ada pak Hartonya. Sedangkan yang dari TNI AL, rata-rata foto dokumentasi. Dan semua foto item putih, kecuali ada 1 foto berwarna yang gak jelas itu foto siapa. Gak ada keterangannya. Aneh deh pokoknya. haha




mmh, entah kenapa namun sejarah yang ditampilkan di diorama menyudutkan PKI semua dan mengelu-elukan TNI AD banget. Sori sebelumnya, tapi emang pendapat saya seperti itu. Gak ada tuh prestasi-prestasi yang ditorehkan PKI. Semua tentang PKI kayaknya jelek. Padahal kayaknya gak gitu-gitu amat sih. Hehe

Ironisnya, di luar museum, ada banyak coretan. Yang melakukannya? ABG-ABG yang masih bocah dan sudah mulai ngerokok (mereka naro rokok di selipan telinga). Nyeeeh, jiwa seni orang Indonesia kah?


Secara keseluruhan, sebenarnya Lubang Buaya keren ko, namun suasananya emang terlampau horror, kurang terawat dan dibeberapa bagian justru panas. Sisanya sih keren. Berminat kesana?